Opini, Mudik Bagi Kami “Suatu Proses Hadap Diri.”

By: On:
Opini, Mudik Bagi Kami “Suatu Proses Hadap Diri.”

Selayarnews.com – Lebaran selalu menjadi momentum yang tepat bagi masyarakat Indonesia yang notabenenya berpenduduk mayoritas Islam untuk pulang di kampung halamannya. Tradisi pulang kampung menjelang lebaran ini lebih dikenal dengan sebutan mudik.

Tradisi mudik menjelang lebaran tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi serentak muncul pada beberapa negara berkembang yang penduduknya mayoritas muslim, seperti Iran, Arab Saudi, Afganistan dan negara-negara Islam lainnya.

Tanpa menapik realitas yang sesungguhnya, giat mudik di Indonesia telah menjadi tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan. Katakanlah menjelang Lebaran Idul Fitri. Mungkin, karena pada saat itulah baru ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara, keluarga dan orang tua.

Sadar atau tidak, setiap tahunnya ketika menjelang Lebaran, istilah mudik ini menjadi kata yang selalu terngiang ditelinga kita karena seringkali diucapkan bahkan diberitakan di sosial media. Tapi pernahkah kita bertanya, mengapa pulang kampung saat Lebaran itu dinamakan mudik atau pernahkah terlintas dibenak kita bahwa apakah yang dimaksud dengan Mudik?. Tidak seorang pun mungkin yang tahu bahwa istilah mudik ternyata punya makna tersendiri.

Berdasarkan keterangan Wikipedia, mudik diartikan sebagai kegiatan perantau atau pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Namun, secara etimologi, ternyata kata mudik berasal dari Bahasa Jawa Ngoko. Dimana kata mudik merupakan singkatan dari ‘Mulih Dilik’ yang artinya adalah pulang sebentar.

Jika kita mencoba menelaah kata mudik berdasarkan etimologi diatas, sebenarnya tidak mempunyai korelasi yang terikat sama sekali dengan kata Lebaran. Tetapi karena seiring perkembangan zaman dan tradisi mudik ini acapkali ramai diperbincangkan pada saat momentum lebaran sehingga dengan sendirinya kata mudik melekat dengan lebaran. Bahkan banyak perantau ramai-ramai mudik saat menjelang lebaran sehingga mudik dan lebaran menjadi satu kesatuan bahasa yang seringkali terngiang ditelinga kita saat menjelang hari besar keagamaan, salah satunya menjelang hari raya Idul Fitri ini.

Mengingat karena kata mudik dimaknai dengan giat pulang kampung. Maka sudah sepatutnya jika mudik dapat diartikan sebagai kegiatan seseorang yang hendak pulang dari kota ke desa atau lebih tepatnya seorang perantau yang kembali ke kampung halamannya.

Jika kita menoleh sedikit sejarah, sebenarnya tradisi mudik ini sudah ada sejak zaman dulu. Sejak zaman kerajaan Majapahit berkuasa. Mudik sudah sering dilakukan (share di Google). Namun, istilah mudik lebaran baru saja berkembang sekitar tahun 1970-an sampai sekarang.

Sedikit mengurai bagaimana tradisi mudik pada masa itu. Pada zaman dahulu, para perantau (Pemudik) pulang ke kampung halaman untuk membersihkan makam para leluhurnya. Hal ini dilakukannya untuk meminta keselamatan dalam mencari rezeki saat ia berada diperantauan. Tradisi inilah yang menular hingga sampai saat ini. Pemudik pun jika pulang kampung pada saat lebaran tidak lupa melakukan ziarah kubur para keluarga, orang tua dan bahkan leluhurnya.

Seiring perkembangan zaman, mudik alias pulang kampung menjelang Perayaan Hari Raya Idul Fitri telah menjadi tradisi setiap tahunnya. Tradisi ini tidak saja hanya dilakoni oleh kalangan Mahasiswa dan Pelajara saja yang notabenenya sebagai perantau (pencari ilmu pengetahuan). Tetapi, telah menjalar hingga keseluruh kalangan tanpa terkecuali.

Sebagaimana diketahui bahwa pemudik adalah orang-orang yang berada dirantauan yang sebelumnya meninggalkan kampung halamannya untuk mencari nafkah maupun menuntut ilmu kemudian pulang kampung menjelang lebaran. Pemudik dalam hal ini hanya dilakoni oleh setiap orang yang berada di perantau tanpa terkecuali dan tidak mengenal strata sosial. Apakah dia pejabat Pemerintah, Politikus, Pengusaha dan lain sebagainya. Artinya, setiap orang yang telah meninggalkan kampung halamannya kemudian pulang kampung menjelang lebaran untuk bertemu dan berkerumunan bersama keluarga dikampungnya, itulah yang dikatakan Pemudik.

Untuk itu, mudik bagi perantau dalam tanda kutip misalkan pekerja perusahaan bahkan siapapun, sangatlah penting. Karena mereka biasanya hanya mendapatkan libur panjang pada saat lebaran saja. Momentum inilah yang kemudian dimanfaatkannya untuk kembali ke kampung halamannya. Berlibur bersama sanak keluarga. Misalkan, mereka yang bekerja sebagai TKI di luar negeri ataupun pekerja yang berada di Batam, Kalimantan, Jakarta dan Jayapura. Mereka yang bekerja di kota-kota itu, hanya bisa pulang kampung setelah liburan panjang yakni saat libur lebaran. Maka momentum inilah yang berkembang menjadi sebuah tradisi hingga saat ini.

Meskipun demikian, dalam hal ini penulis tidak ingin mengutarakan secara gamblang bagaimana sejarah permudikan dari zaman ke zaman. Namun, penulis hendak mengurai sisi lain dari tradisi mudik tersebut.Bahwa mudik tidak sekedar pulang kampung guna merayakan hari Raya Idul Fitri bersama keluarga di kampung. Tidak hanya meletupkan kerinduan terhadap kampung halaman dan atau sanak keluarga. Mudik bukan juga tidak hanya sekedar ikut-ikutan lantaran semua teman-teman sekampung pada pulang.

Mudik bukan pula hanya sebagai ajang Safari Politik sebagaimana yang seringkali dilakoni oleh para politikus-politikus apatahlagi saat menjelang momentum politik seperti Pemilihan Kepala Desa (Pilkades), Pemilihan Bupatu (Pilbup) ataupun Pemilihan Wali kota dan Gubernur dan lain sebagainya.

Tetapi, lebih daripada itu, mudik perlu digaris bawahi dan dijadikan frame bersama sehingga akan muncul pertanyaan besar dibenak kita bahwa “Mengapa Kita Harus Mudik.” Apakah hanya untuk lebaran bersama keluarga di kampung atau hanya untuk menikmati ke-asari-an tempat kelahiran. Ataukah hanya untuk menyapa para kolega sebagai pundi-pundi suara saat momentum politik nantinya. Saya kira tidak sesederhana itu.

Jika memang dilihat secara kasat mata, mudik tentunya hanya sebatas orang yang berpergian sebagaimana yang diutarakan diatas. Tetapi secara kontemplasi, tradisi mudik lebaran ini dapat dijadikan sebagai proses perjalanan spritual dan proses hadap diri. Mengapa demikian, karena salah satu alasan untuk kita mudik adalah adanya dorongan atau panggilan jiwa untuk merayakan hari raya Idul Fitri bersama sanak keluarga dikampung halaman. Selain itu, ada dorongan bagi diri untuk menghadapkan diri kita kepada orang tua khususnya kepada seorang Ibu.

Selain itu, dikatakan bahwa mudik sebagai proses perjalanan spritual karena ada dorongan atau panggilan jiwa untuk membersihkan diri agar dapat kembali menjadi Fitrah. Artinya, saat mudiklah kita bisa kembali mengutarakan secara langsung permohonan maaf kepada orang tua dan kepada orang-orang yang pernah kita sakiti dikampung halaman.

Maka dari itu, melalui mudik ini, maka kita terpanggil kembali untuk memulai proses perjalanan hidup dari titik nol, titik dimana kita mengawali perjalanan hidup seorang diri hingga menjadi seorang perantau.

Karena dikampunglah kita memulai segalanya hingga menjadi apapun dan menjadi siapapun dirantauan. Teringat dengan bahasa kiasan yang sering diagungkan oleh orang-orang yang telah sukses bahwa, “Langkah seribu sangat ditentukan oleh langkah pertama.” Maka sangat tepatlah jika kita kembali melangkahkan kaki kita agar dapat menggapai apa yang dicitakan.

Mudik bagi siapapun adalah suatu yang niscaya untuk kembali hadap diri agar dapat memantapkan diri dengan niat yang baik dan konsisten dalam memperjuangkannya. Jadi, bukan hanya tradisi yang menghabiskan waktu, tenaga dan materi tetapi menjadi proses hadap diri.

Itulah alasan mengapa tulisan ini hadir, karena mudik bagi penulis adalah merupakan proses hadap diri juga sebagai proses perjalanan spritual guna sebagai upaya mengembalikkan diri menjadi fitrah. Sehingga kita dapat kembali melanjutkan perjalanan hidup sebagai seorang perantau dalam keadaan fitrah pula. Karena semua berawal dari kampung. Maka kita harus kembali memulainya dari kampung pula tanpa ada keakutan dan kenajisan dalam diri.

Selamat bermudik dan selamat hari Raya Idul Fitri 1438 H. Semoga kita semua menjadi Insan yang Fitrah yang senantiasa beristikhomah di Ranting Kemanusian.
Penulis :

Suharlim, (Sekretaris Umum HMI Cabang Makassar dan Presiden Gerakan Mahasiswa Pelajar Indonesia Tanadoang Kab. Kepualauan Selayar)

%d blogger menyukai ini: