“Refleksi Hari Lahir Pancasila, Sebuah Catatan Otokritik.”

“Refleksi Hari Lahir Pancasila, Sebuah Catatan Otokritik.”

Selayarnews.com – Tepat hari ini, tanggal 01 Juni adalah hari lahirnya pancasila. Walaupun hal itu masih banyak menuai perdebatan dengan berbagai macama prespektif. Bukan disitu duduk persoalannya yang hendak diulas oleh penulis.

Namun, mengulas kelahiran Pancasila maka tak terelakkan bahwa ia merupakan wujud dari kebinekaan di negeri ini karena Pancasila lahir dari benih-benih pemikiran anak bangsa yang paham akan konteks Negara Indonesia yang sebelumnya dikenal dengan penamaan Nusantara.

Seiring berjalannya waktu, dari masa ke masa ditandai dengan pergantian era kepemimpinan, tidak bisa dipungkiri bahwa nilai luhur pancasila kian terkikis, laksana kain sutra yang semakin luntur. Pancasila laksana hanya dijadikan sebagai simbolik belaka tanpa menerapkan kandungan yang terdapat dalam setiap butiran Pancasila.

Dewasa ini, kita tidak bisa menutup mata bahwa tak sedikit pejabat yang melakukan kekerasan terhadap simbolik negara. Dalam hal ini, pejabat yang menyelewengkan jabatannya, itu adalah bagian dari perilaku kekerasan simbolik Negara karena tidak mengilhami nilai Pancasila dalam dalam kehidupan bernegara.

Belakangan ini, tak sedikit pula elit-elit partai politik yang menunujukan kegenitan politiknya yang mempertontonkan perilakunya yang bertentangan dengan nilai Pancasila. Maka, hal itu menjadi sebuah pertanda dan bukti bahwa pancasila seolah hanya menjadi hiasan yang terbingkai dan dipajang pada dinding – dinding bangunan yang megah. Pancasila seolah-olah hanya sebatas burung garuda yang mengandung lima sila didalam dirinya lalu di pajang di setiap ruangan megah.

Kasus korupsi misalnya, yang akhir-akhir ini hangat diperbincangkan baik di sosial media maupun di surat kabar. Kasus ini acap kali ditengarai oleh kelompok elit atau pejabat negara yang di mandatkan oleh rakyat. Dengan kasus ini, tak sedikit pejabat negara terjerumus kedalam jeruji lantaran tidak mengejawantahkan nilai pancasila dalam kehidupan bernegara. Tentunya ini sangat miris dan menjadi PR bagi kita semua khususnya generasi muda bangsa ini.

Belum lagi kasus perpecahan antara suku di negeri ini yang bahkan melahirkan pertumpahan darah dikarenakan perbedaan keyakinan dan kebudayaan, suku dan ras. Tentu ini menjadi lembaran cerita tersendiri dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Selain itu, terorisme yang senantiasa menronrong Stabilitas keamanan negara. Ini menjadi Pekerjaan Rumah bagi pejabat negara dikarenakan adanya berbagai teror sehingga membuat warga negara terus menerus mawas diri setiap kali keluar rumah bahkan didalam rumah sendiri pun membuat kehidupan warganya tidak merasakan kenyamanan.
Sebutlah, kasus bom bunuh diri yang baru – baru saja terjadi di kampung melayu. Hal itu menandakan adanya teror yang mengancam keamanan dan ketentraman masyarakat Indonesia.

Lebih mirisnya lagi, banyak dari kalangan pemuda seolah tak peduli dengan nilai yang termaktub dalam kelima sila dalam pancasila. Pemuda yang menjadi pemilik dan pengatur masa depan bangsa dan negara seolah larut dalam euforia postmodern yang saat ini memukat generasi bangsa. Bahkan setiap momentum bersejarah pun tak lewat diperingatinya dengan penuh heroik di sosial media dengan berbagai macam tagline-tagline.

Menurut hemat saya, menyambut hari lahirnya Ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, sebagaimana saya mengamati hampir semua orang rame-rame menegaskan tentang dirinya sebagai orang Indonesia dan sekaligus sebagai orang yang berideologikan pancasila, “Saya Indonesia, Saya Pancasila.” kurang lebih seperti itulah.

Penegasan diri sebagai orang Indonesia yang beridrologikan Pancasila itu tidak hanya datang dari kalangan anak muda saja tapi hampir semua kalangan tak terkecuali kalangan elit dan aparat penegak hukum. Penegasan diri tersebut sangat fenomenologis bagi saya.

Dengan memandang secara otokritik, Euforia tersebut menandakan bahwa soalah kita tidak sadar selama ini bahwa memang kita lahir dari rahim Indonesia dan besar dalam pangkuan ibu pertiwi dengan Falsafah hidup Pancasila. Ataukah bisa jadi, penegasan “Saya Indonesia, Saya Pancasila,” adalah antitesa dari diri kita yang sebelumnya bukan demikian.

Selain itu, secara fenomenologi, giat serentak dengan menegaskan diri sebagai orang Indonesia yang berideologikan Pancasila sesungguhnya adalah gerakan melemahkan Pancasila itu sendiri. Pasalnya, hal ini mengindikasikan sebagai bentuk kekhawatiran kita semua sekaligus menegaskan pula bahwa ideologi kita sudah terancam oleh ideologi yang lain. Ibarat seorang kesatria, ia sudah dikepung dan terancam oleh musuhnya. Untuk itu, kita perlu membelanya dengan menegaskan diri bahwa kita adalah orang Indonesia dan kita Pancasila.

Untuk itu, memaknai Hari Pancasila, saya kira tidak cukup jika hanya dengan menegaskan diri karena Pancasila seyogyanya tidak butuh pengakuan dan penegasan. Selain itu, kekuatan Fundamentalis Pancasila juga bukan pada penegasan tersebut tetapi ada pada sikap dan perilaku setiap warga negara. Artinya, sejauh mana setiap warga negara telah mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupannya sehari-hari serta bagaimana Pancasila di tengah serabut bernegara. Lima poin yang termaktub dalam pancasila harus mampu dijadikan sebagai tolak ukur dalam setiap gerak nafas dan perilaku hidup ditengah serabut bernegara.

Bukankah sesungguhnya Pancasila sudah lahir dari jejak-jejak sejarah kebangsaan. Sejak didiskusikannya kemerdekaan maka tidak terkecuali membincang pula Pancasila hingga ia dilahirkan menjadi Ideologi negara kita. Bahkan Foundung fathers telah meletakkan Pancasila tidak sekedar lambang negara dengan burung garudanya dan kelima silanya. Tetapi ia juga menjadi kekuatan ideologis dan filisofis hidup setiap warga negara.

Namun demikian, serabut bernegara akhir-akhir ini sangat diakibatkan oleh setiap fenomena NKRI yang kian teracak-acak. Sehingga memang tidak ada jalan lain, Pancasila harus hadir memberi solusi dalam bernegara. Namun, tidak cukup jika hanya dengan sekedar menegaskan diri bahwa kita Indonesia, kita Pancasila. Tetapi, setiap gerak dan nafas kita pun harus senantiasa mengarah pada nilai-nilai Pancasila guna menjaga keberagaman bukan mengudung keseragaman. Karena Indonesia sejak dahulu kala, lahir dan tumbuh besar dari keberagaman bukan keseragaman. Disitulah letaknya keindaha Negara Indonesia.

Selamat Hari Lahir Pancasila, mari Pancasilakan diri agar setiap menjumpai keberagaman dalam berbangsa dan bernegara mampu dimaknai sebagai sebuah Keindahan.

****

Penulis : Suharlim (Sekretaris Umum HmI Cabang Makassar & Presiden Gerakan Mahasiswa Pelajar Indonesia Tanadoang Kab. Kepulauan Selayar).

banner 468x60
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: