KAPAL WALVIS DAN SELAYAR (2/2)

0
KAPAL WALVIS

Selayarnews.com – Ketika Residen Belanda di Makassar menerima informasi mengenai kecelakaan ini, ia segera mengirim tim penolong pertama yang tiba di Selayar pada awal Februari. Hanya saja muatan dan sisa-sisa kapal ini sudah dipreteli dan dibawa ke kampung-kampung pesisir untuk ditukar demi menyambung hidup, terutama karena barang berharga milik mereka sudah bisa dikatakan habis.

Pengumpulan kembali benda-benda berharga yang diambil dari kapal ini kemudian menjadi urusan panjang.

Begitupun dengan pembebasan seorang anak muda Belanda yang ditahan oleh seorang raja lokal lain, dimana hanya bisa dibebaskan bila ditukar dengan 5 budak yang dimiliki Kompeni.

Raja lokal ini mengatakan, bahwa ia tidak bisa mematuhi Raja di Makassar walau budak itu telah diserahkan ke mereka, sebab Raja di Makassar ada di Makassar, dan budak itu adalah miliknya.

Setelah dilakukan negosiasi yang panjang, akhirnya 16 orang diberangkatkan dengan perahu lokal ke Makassar. Sedangkan 14 orang kulit putih, seorang perwira kapal dan 15 budak Kompeni berangkat dengan tim penolong pertama.

Sisanya yang sekitar 90 orang baru dijemput pada bulan Maret dengan Kapal Leuwin, dimana kebanyakan dari mereka dalam keadaan sakit dan frustrasi.

KAPAL WALVIS

Tidak lama setelah itu, dilakukan beberapa kali penyelaman untuk melihat sisa-sisa kapal dan muatannya, tapi semua kembali dengan tangan kosong. Isyu yang beredar saat itu bahwa sebagian besar muatan kapal sudah dibawa ke kampung Bonea. Juga tersebar isyu, bahwa 16 meriam, serta berbagai benda berharga antara lain jangkar sebanyak 3 buah, sudah diamankan oleh pengikut Karaeng Tallo dan Karaeng Sumanna, dua orang bangsawan Makassar.

Belakangan, Kompeni meminta agar meriam itu dikembalikan, tapi Karaeng Sumanna menolak dengan mengatakan bahwa, sejak dikeluarkan dari laut, semua itu menjadi miliknya. Tapi pada akhirnya, setelah melalui negosiasi yang alot, setengah dari meriam itu dikembalikan dengan pemberian kompensasi.

Apakah hanya karena meriam ini sehingga Belanda sangat menginginkan muatan kapal Walvis ini dikembalikan? Atau uang logam, atau ada benda berharga lainnya?
Sebagaimana hasil penelitian Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya Non Hayati serta Pusat Riset Teknologi Kelautan (2009) untuk Marine Archeological Resources for Marine Ecotourism Development in Indonesia, ditemukan sebaran artefak berupa keramik, botol, fragmen kayu dan logam yang menyebar hampir di seluruh perairan barat Pulau Selayar, mulai dari Benteng hingga Taka Kappala di selatan yang terletak antara Pulau Nambolaki dan Pulau Polassi, terutama di Tile-tile, Sangkulu-kulu dan perairan Walvis Reef. Dari interpretasi data side-scan sonar C-Max, disimpulkan adanya kapal karam yang belum diketahui asal-usulnya di Tile-tile dan Walvis Reef, serta meriam-meriam di perairan Benteng dan Bontolebang. Hampir bisa dipastikan bahwa yang ditemukan di sekitar perairan Benteng dan Bontolebang ini berkaitan dengan kapal Walvis yang dinyatakan hilang pada tanggal 7 Januari 1663. Hanya hanya masih diperlukan penelitian lebih jauh apakah sisa-sisa bangkai kapal yang ditemukan di perairan Tile-tile dan Walvis Reef itu berasal dari kapal yang sama, atau dari kapal yang berbeda.

Banyaknya perhatian terhadap kapal ini sejak Perjanjian Bongaya 1667, membuat nama Walvis identik dengan pulau Selayar, atau Pulau Selayar identik dengan Kapal Walvis.

Sebagai kabupaten kepulauan yang menjadi jalur pelayaran di masa lalu, tinggalan-tinggalan kapal karam ini bisa menjadi bagian dari sejarah maritim nusantara. Bahkan karena kepopuleran kapal Walvis, ke depan kapal ini bisa dibuatkan replika (misalnya bagian buritan) yang bisa menjadi center display sekaligus isi museum andalan pada museum daerah bersama dengan benda-benda muatan kapal tenggelam yang telah diangkat.

(Tamat)

*****

Penulis : H.Rakhmat Zaenal, Lc