Selayarnews.com – Kapal Walvis (Walvisch) menjadi tidak terpisahkan dengan Selayar setelah muncul dalam Perjanjian Bongaya yang ditandatangani Sultan Hasanuddin dan Laksamana Cornelis Speelman pada tanggal 18 November 1667.

Dalam Poin 3 Perjanjian ini disebutkan bahwa; “seluruh perlengkapan kapal, meriam, mata uang logam dan barang-barang lain yang diambil dari Kapal Walvisch di Selayar dan Leeuwin di Don Duango harus dikembalikan kepada Kompeni”.

Sejak itu, Walvis dan Selayar menjadi perhatian para peneliti dan sejarawan, terutama yang mendalami arkeologi bawah laut dan sejarah maritim.

Kapal ini yang pada awalnya diberi nama Dutch Cave dengan kapasitas 1000 ton, dibuat pada tahun 1647 dan merupakan kapal untuk tujuan daerah koloni di Afrika Selatan. Hanya saja tahun 1652 ketika melakukan pelayaran ke Cape Town, 56 dari 242 awaknya meninggal dunia di perjalanan. Untuk “membuang sial”, kapal ini kemudian diberi nama dengan mengambil nama Teluk Walvis (sekarang Namibia).

Kapal ini sudah melakukan 17 pelayaran antara Asia dan Eropa sepanjang kurang lebih 225.000 mil laut sebelum menemui ajalnya di perairan Selayar.
Dalam pelayaran terakhirnya dari Batavia menuju ke timur nusantara melalui pesisir utara Pulau Jawa, cuaca sangat tidak bersahabat. Beberapa peristiwa yang dialami seolah menjadi tanda bahwa perjalanan mereka akan dipenuhi kesialan.

Perjalanan mereka beberapa kali harus ditunda karena berbagai sebab. Sebelum menuju Rembang, di Jepara mereka harus berhenti di luar jadwal karena jurumudi dan 5 awak kapal meninggal. Kapal ini kemudian meninggalkan Rembang pada tanggal 31 Desember 1662.

Mereka melanjutkan perjalanan ke timur dalam suasana berkabut dan ombak yang besar, sebelum akhirnya kerkena badai.
Perairan Selayar yang sudah dikenal sangat berbahaya, walau selama ini dikenal sebagai jalur pelayaran yang aman dari dari Makassar ke Bima, diberi catatan berabahaya oleh para pelaut Eropa. Dalam catatan para pelaut ini, ”Selayar dipenuhi batu karang dan gundukan pasir”.

KAPAL WALVIS

Menjelang Pulau Pasi (sekarang Pasi Gusung), kapal ini dihempas badai.

Sebanyak 60 orang dari 162 yang berada di atas kapal berbegas melompat menyelamatkan diri, dan dalam waktu yang kurang dari setengah jam, kapal ini pecah berkeping-keping bersama sisa awak yang bertahan di atasnya.

Beberapa orang dalam keadaan telanjang bulat berhasil mencapai pantai dengan bantuan pecahan kayu kapal.
Walaupun konflik antara VOC dan Makassar – yang menjadi atasan Selayar, baru saja terjadi, tapi yang selamat ini diterima dengan baik. Mereka melewatkan malam pertama di Pulau Pasi (Pasi Gusung) yang berhadapan langsung dengan Kota Benteng dalam kondisi cuaca sebagaimana dalam salah satu catatan yang selamat, “lembab dan dingin”.
Hari berikutnya, lokasi tenggelamnya kapal ini dikunjungi oleh raja lokal (namanya tidak disebut) – “yang bisa memahami kondisi terjadinya insiden”. Raja lokal ini tidak menolak mereka, dan menerima pembayaran yang ditawarkan “dari pada dibiarkan mati kelaparan”.

Kedatangan sekitar 145 yang selamat dari kapal yang tenggelam ini, segera saja membuat pemukiman yang kumuh di Selayar.

(bersambung)

Penulis :  H. Rahmat Zaenal, LC