Kurangnya minat baca dan belajar di perpustakaan Daerah Kep. Selayar

By: On:
Kurangnya minat baca dan belajar di perpustakaan Daerah Kep. Selayar

Oleh “ Ardiansyah,

(Tenaga Pengajar/Sukarela di SMKN 3 Benteng/Tutor UT.Pokjar Bontoharu.)

Rendahnya minat baca pada siswa dapat dipengaruhi oleh lemahnya sarana dan prasarana pendidikan.Salah satu faktor yang menyebabkan kemampuan membaca siswa tergolong rendah karena sarana dan prasarana pendidikan khususnya perpustakaan dengan buku-bukunya belum mendapat prioritas dalam penyelenggaraannya. Sedangkan kegiatan membaca membutuhkan adanya buku-buku yang cukup dan bermutu serta eksistensi perpustakaan dalam menunjang proses pembelajaran. Faktor lain yang menghambat kegiatan siswa untuk mau membaca adalah kurikulum yang tidak secara tegas mencantumkan kegiatan membaca dalam suatu bahan kajian, serta para tenaga kependidikan baik sebagai guru, dosen maupun para pustakawan yang tidak memberikan motivasi pada anak-anak peserta  didik bahwa membaca itu penting untuk menambah ilmu pengetahuan, melatih berfikir kritis, menganalisis persoalan, dan sebagainya.Rendahnya minat baca di kalangan anak dapat disebabkan oleh kondisi keluarga yang tidak mendukung, terutama dari orang tua anak-anak yang tidak mencontohkan kegemaran membaca kepada anak-anak mereka.Selain itu, kurangnya perhatian dan pengawasan orang tua mereka terhadap kegiatan anak-anaknya.

Hal ini dapat dikaitkan pula dengan konsep pendidikan yang diterapkan dan dipahami orang tua.Sementara terkait dengan fasilitas, minimnya ketersediaan bahan bacaan di rumah juga dapat membuat anak kurang berminat pada kegiatan membaca karena tidak ada atau kurangnya sumber bacaan yang tersedia di rumah.Selain dari sisi keluarga, terdapat juga pengaruh dari lingkungan.Karena pengaruh ajakan yang begitu kuat dari lingkungan (teman), anak lebih memilih bermain dengan teman-temannya dibanding membaca buku.Dan terakhir, ketersediaan waktu yang kurang, membuat anak kurang berminat untuk membaca.  Seperti kondisi beberapa informan anak yang bersekolah dengan sistem full day school yang diberlakukan Menteri Pendidikan dan kebudayaan Era Kabinet kerja, tentu sebagian besar waktu dalam sehari sudah banyak dihabiskan di sekolah. Kesempatan memiliki waktu luang sangat terbatas.Apalagi jika masih ada kegiatan-kegiatan rutin yang mereka jalani setelah pulang sekolah.Kalaupun masih ada sisa waktu, mereka lebih memanfaatkan untuk bersantai dan melepas lelah.

Rendahnya minat baca siswa, tentu tidak hanya sebatas masalah kuantitas dan kualitas buku saja, melainkan terkait juga pada banyak hal yang saling berhubungan.Misalnya, mental anak dan lingkungan keluarga/masyarakat yang tidak mendukung. Orang kota mungkin kesulitan membangkitkan minat baca siswa karena serbuan media informasi dan hiburan elektronik. Sementara di pelosok desa, siswa lebih suka keluyuran ketimbang membaca. Sebab, di sana lingkungan/tradisi membaca tidak tercipta. Orang lebih suka ngerumpi atau menonton acara televisi daripada membaca sehingga penulis tertarik untuk menulis Opini atau informasi yang relevan agar yang melihat dan membaca sadar akan peran masing-masing baik orang tua, lingkungan dll, seperti yang terjadi diperpustakaan Daerah Selayar adalah banyak dikalangan siswa,remaja bahkan mahasiswa yang keperpustkaan bukan tujuannya adalah membaca akan tetapi hanya difungsikan main Game, facebook, Bbm dll. banyaknya jenis hiburan, permainan (game) dan tayangan TV yang mengalihkan perhatian pelajar dari buku.

Selain itu, browsing di internet terkadang lebih asyik bagi para pelajar ketimbang harus membaca buku pelajaran yang mereka pikir terlalu membosankan. Pelajar rela menghabiskan waktu dengan HP, laptop, ataupun gadget mereka untuk membuka internet seperti bermain facebook, twitter, youtube, ataupun media lain dari pada mencari hal-hal yang bermanfaat untuk kehidupan mereka ataupun membaca buku.

Budaya baca memang belum pernah diwariskan nenek moyang kita.Kita hanya terbiasa mendengar berbagai dongeng, kisah, adat-istiadat secara verbal dikemukakan orang tua, nenek, dan tokoh masyarakat.Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa orang Indonesia lebih senang mendengar ataupu berbicara dari pada membaca. Ini terbukti dari sebagian besar pelajar lebih suka mendengar berita ataupun menonton sinetron di televisi, dan jika sedang berkumpul dengan teman sejawat, mereka akan lebih suka untuk ngerumpi untuk membicarakan hal-hal yang menurut mereka asyik untuk dibicarakan, seperti menggosip ataupun bercerita tentang isi hati mereka masing-masing.para ibu orang tua kita senantiasa disibukkan berbagai kegiatan, serta membantu mencari tambahan nafkah untuk penghidupan keluarga.

Kadang itu membuat para pelajar merasa kehilangan kasih sayang dan mencari kegiatan lain untuk mencari cara menghilangkan kejenuhan dan itu cenderung mengarah ke hal yang negative.sarana untuk memperoleh bacaan, seperti perpustakaan atau taman bacaan, masih merupakan barang aneh dan langka. Itu membuat para pelajar menjadi malas untuk membaca karena mereka tidak bisa dengan mudah mencari bahan bacaan. Di internet juga tidak semua informasi ada, selain itu terlalu lama berada di depan laying computer ataupun sejenisnya bisa membuat mata tidak sehat atau bahkan bisa membuat kita memakai kaca mata.Mempunyai sifat malas yang merajalela dikalangan anak-anak maupun dewasa untuk membaca dan belajar demi kemajuan diri masing-masing untuk menambah ilmu pengetahuan.Ini merupakan masalah terbesar bagi rendahnya minat baca para pelajar karena ini merupakan masalah dari dalam diri pelajar yang harus mereka lawan sendiri.Sifat malas tersebut muncul secara tiba-tiba atau sudah menjadi kebiasaan seoraang pelajar malas untuk membaca.

Minat baca siswa yang rendah dewasa ini disebabkan oleh  faktor, perkembangan teknologi dan pusat-pusat informasi yang lebih menarik,, perkembangan tempat-tempat hiburan (entertainment), acara televisi. Sehingga  status dan kedudukan perpustakaan, serta citra perpustakaan dalam pandangan siswa sangat rendah. Hal ini secara lebih luas, dengan menengok sendi-sendi budaya masyarakat yang pada dasarnya kurang mempunyai landasan budaya baca, atau pewarisan secara intelektual.Masyarakat dalam memberitakan sesuatu termasuk cerita-cerita terdahulu lebih mengandalkan budaya tutur daripada tulisan.Latar budaya lisan itulah yang agaknya menjadi salah satu sebab lemahnya budaya baca masyarakat, termasuk minat pada pustaka dan perpustakaan dalam memenuhi kebutuhan informasi dan ilmu pengetahuan.

Kurangnya Dukungan Keluarga dan Lingkungan.Apabila rendahnya minat dan kemampuan membaca siswa, maka dalam persaingan global kita akan selalu ketinggalan dengan sesama negara berkembang, apalagi dengan negara-negara maju lainnya. Kita tidak akan mampu mengatasi segala persoalan sosial, politik, ekonomi, kebudayaan dan lainnya selama SDM kita tidak kompetitif, karena kurangnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, akibat lemahnya kemauan dan kemampuan membaca.

Penurunan minat membaca juga berpengaruh terhadap daya saing tenaga kerja Indonesia yang menduduki urutan ke-46 di dunia, di bawah Singapura (2), Malaysia (27), Filipina (32) dan Thailand (34). Sedangkan, kualitas SDM Indonesia berdasar Indeks Pembangunan Manusia oleh PBB (UNDP) 2000, menduduki urutan ke-109, terendah dibanding sejumlah negara ASEAN, seperti Vietnam (108), Jepang (9), Singapura (24), Brunei (32), Malaysia (61), Thailand (76) dan Filipina (77). Salah satu cara untuk meningkatkan minat baca siswa adalah peningkatan sistem pendidikan Nasional yang diatur dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 diharapkan dapat memberikan arah agar tujuan pendidikan di tanah air semakin jelas dalam mengembangkan kemampuan potensi anak bangsa agar terwujudnya SDM yang kompetitif dalam era globalisasi, sehingga bangsa Indonesia tidak selalu ketinggalan dalam kecerdasan intelektual.

Pada dasarnya, pihak sekolah / guru bertanggungjawab ikut menumbuhkan minat baca bagi siswa, karena dari sanalah sumber kreatifitas siswa akan muncul. Sekolah harus mengajar anak-anak berpikir melalui budaya belajar yang menekankan pada memahami materi.Selain itu, juga keluarga harus mendukung, terutama dari orang tua anak-anak yang harus mencontohkan kegemaran membaca kepada anak-anak mereka.Selain itu, orang tua juga harus memperhatian dan mengawasi terhadap kegiatan anak-anaknya.Sementara terkait dengan fasilitas, ketersediaan bahan bacaan di rumah juga dipenuhi agar membuat anak berminat pada kegiatan membaca karena sumber bacaan yang tersedia di rumah. Mariki sama-sama belajar demi mencapai masa depan yang lebih gemilang. Ardiansyah Dn Fb.

%d blogger menyukai ini: