Selayarnews.com – Setiap mimpi adalah bentuk perjuangan yang harus dikejar. Menjadi pemimpi tanpa ada usaha sama halnya dengan pejuang yang  belum berjuang sudah menyerah sebelum bertanding. Impianku sejak kecil sederhana hanya ingin mengubah nasib keluargaku yang sudah membelenggu semua warga-warga yang ada dalam rumah kami. Saya harus berjuang sendiri untuk mengubah takdir ini , sebab menjadi kaya dan miskin adalah pilihan hidup . Dan terkadang banyak kalangan yang hanya menyalahkan kondisi dan keadaan nasibnya sendiri ketimbang untuk memperbaikinya.

Saya adalah pejuang di keluargaku sebab apa?? Saya adalah anak perempuan dalam keluarga kami yang terdiri  dari empat bersaudara, ketiga saudara saya adalah laki-laki semua, tetapi kenyataan itu membantahkan bahwa bukan laki-laki saja yang berhak berjuang , buktinya ketiga saudara saya telah menjadi korban pendidikan dan putus sekolah sebelum menyelesaikan pendidikan mereka sampai tahap tingkat lanjut Sekolah Menengah Atas. Saya harus berjuang untuk melanjutkan pendidikan saya sampai ke tahap sejauh ini, sejak kecil dari keadaan yang sangat terpuruk menjadikan cambuk semangat buat saya, saya pernah merasakan sulitnya untuk mendapatkan sebuah kenikmatan makanan diusia saya yang masih berumur sepuluh tahun, titik dimana hanya kata menyerah atau terus berjuang melawan garis kemiskinan itu.

Orang tua yang latar belakang pendidikan tidak ada serta pekerjaan sebagai pedagang kaki lima yaitu ibu , dan bapak adalah hanya seorang nelayan yang harus bergantung dengan kondisi cuaca alam, kami hidup dengan serba pas-pasan . Bahkan adik saya yang sempat mengeyam pendidikan sampai tingkat menengah pertama harus rela untuk mengalah putus sekolah demi perjuangan saya meneruskan kuliah S1 sampai selesai. Dia mengorbankan dirinya untuk memperjuangkan pendidikan saya sebagai kakaknya. Lika –Liku pendidikan saya pun sedikit berwarna sejak di zaman Sekolah dasar dulu , saya yang harus jualan kue membantu ibu sampai di tingkat sekolah menengah pertama.

Selanjutnya memasuki tingkat Sekolah Menengah Atas saya harus rela menjadi bagian cemooh oleh teman-teman karena saya dan ibu hanya tinggal berteduh di kios atau warung tempat ibu saya menjual, tapi saya sudah kebal dengan cemoohan itu sejak SMP maka itu hanya angin yang berlalu bagi saya sehingga saya buktikan dengan menaruhkan prestasi akademik dengan mendapatkan peringkat satu terus sampai akhir dan alhamdulillah berapa kali mendapatkan beasiswa . Sungguh kelak di waktu itu kebahagiaan ibu merekah diwajahnya dengan prestasi yang saya persembahkan kepada ibu , serta bisa mengurangi biaya pendidikan saya sedikit.

Memasuki masa perkuliahan S1 sungguh perjuangan yang masih panjang serta dinamika nya juga sudah semakin naik kelas, dari yang kesulitan masa-masa SD ,SMP , dan SMA yang penuh dengan olok-olokan yang bisa saja merapuhkan mental perjuangan saya , tetapi apa yang saya lakukan semakin banyak yang mencela maka kekuatan saya akan semakin kuat dengan kritikan itu. Di bangku perkuliahan kesulitan itu tidak terlalu nampak dalam suasana  kelas sebab saya mengeyam pendidikan di wilayah kota di Sulawesi Selatan tepatnya Makassar yang setidaknya pemikiran mereka sudah mulai individualisme.

Maka tingkat kesulitanku akan semakin terasa dan terdeteksi ketika memasuki masa-masa pembayaran SPP dan pembayaran biaya kontrakan. Hingga mau tidak mau memacu  jiwa dan sifat saya sebagai pedagang muncul kembali, seperti tidak akan pernah mati latihan-latihan perjuangan saya menjual membantu ibu di pasar. Saya yang mulai melihat peluang-peluang apa saja yang dibutuhkan oleh temna-teman kampus dari skala teman kelas sampai teman lembaga menjadi konsumen saya.

Saya tidak pernah malu dan tidak pernah merasa lelah membagi waktu istirahat sepulang kuliah dengan menyusuri pasar-pasar termurah di Makassar dan menjual nya kembali ke teman-teman sesuai pesanan. Lambat laut relasi pun semakin banyak menjadikan saya mendapatkan kerjaan sampingan sebagai relawan lembaga survey Indonesia ,saya yang harus siap untuk mengorbankan waktu – waktu anatara aktif mengasah kempuan saya di lembaga kampus serta tetap unggul di akademik dengan mendapatkan kerjaan tambahan di daerah – daerah Sulawesi Selatan.

Semenjak itu sedikit meringankan perjuangan ibu untuk membantu menyelesaikan kuliah saya , saya yang harus tetap menyelesaikan akademik , organisasi dan pekerjaan yang hampir bersamaan dalam satu waktu. Dari pengalaman semua itu melatih insting saya untuk tetap menjadi kuat dan bertahan untuk bisa memperbaiki dan mengubah nasib keluarga saya. Dari hasil menabung sedikit demi sedikit ditambah lagi saya memiliki banyak pekerjaan paruh waktu untuk mencukupi kehidupan saya sendiri di kota Makassar .

Tabungan yang sedikit demi sedikit alhamdulillah mengantarkanku sampai sejauh ini mengeyam pendidikan di daerah tanah jawa tepatnya Surabaya melanjutkan pendidikan S2 saya lagi-lagi penguatku untuk memutuskan tali kemiskinan dan kebodohan dalam keluargaku.

Kisah di S2 lebih sulit lagi saya hadapi awal pendaftaran mahasiswa baru saya tidak punya sanak saudara di kota surabaya ini , bermodalkan nekat serta keberanian saya  melangkahkan kaki lagi , untungnya ada keluarga dari teman saya yang menawarkan untuk bisa menginap ditempatnya setidaknya sampai ujian saya selesai. Dan singkat cerita kisah di S2 awal saya masuk kuliah sungguh untuk bertahan hidup disini saya harus mencoba untuk memasukkan kembali lamaran kerja di berbagai tempat kerja. Karena bakcroud saya sebagai pendidik maka saya mencari lowongan kerja sebagai guru less dan pelatih.

Penolakan demi penolakan dari setiap lembaga kursus setiap hari dalam waktu dua minggu saya mengelilingi setiap lembaga kursus dan sekolah terdekat untuk menawarkan diri menjadi guru atau pelatih mereka,tapi  ALLAH berkehendak lain sebab dimasa itu kurang  lebih lembaga kursus sepuluh yang direkomendasikan oleh teman kelas  saya yang mengetahui masa-masa tersulit saya dan kenapa saya mencari kerjaaan paruh waktu lagi untuk bisa bertahan di kota ini dan bisa meneruskan pendidikan, tetapi dikala itu hanya penolakan dan penolakan sampai akhirnya saya bertekad jika tidak ada kerjaan fisik yang bisa saya dapatkan maka saya harus mencari kerjaan berfikir , maka mulailah saya mencari beberapa lomba-lomba menulis di setiap event baik bertanya ke teman-teman ataupun mencari tahu event di internet yang mengadakan lomba menulis tanpa harus ada registrasi pembayarannya.

Tepat memasuki bulan kedua ada kepala sekolah tempat saya memasukkan lamaran kerjaan menawarkan bahwa di sekolah nya sedang kosong pelatih Hizbul Wathan yaitu kepanduaannya Muhammadiyah, maka ALLAH membalaskan semua bentuk jerih payah saya yang sudah lama menginginkan pekerjaan , selang beberapa minggu kemudian saya pun mendaftarkan lagi di sebuh tempat kursus dan bersyukurnya tidak terlalu jauh dengan lokasi tempat saya tinggal ,saya diterima lagi kerja menjadi guru disana. Saya harus kembali pintar-pintar untuk membagi waktu saya antara kuliah di pascasarjana dengan kerja sampingan pelatih serta guru less , dan pernah teman saya menawarkan pekerjaan paruh waktu sepulang dari less tepatnya pukul 21.00 malam hari saya tidak langsung istirahat tetapi mengambil paruh waktu lagi menggunting-gunting kain jilbab sebagai tambahan biaya hidup saya disini .

ALLAH memberikan apa yang menjadi kebutuhan kita bukan memenuhi apa yang kita mau dan saya yakini itu , beberapa kali saya harus berfikir keras dimana lagi  saya akan mendapatkan  tambahan biaya SPP saya untuk memasuki semester kedua di pascasarjana , sebab berharap ke orangtuapun beliau sudah tidak sanggup lagi , tetapi saya masih tetap ingin berjuang dan memberikan yang terbaik untuk keluarga saya , saya yakin sekali pintu kesuksesan itu sudah ada di depan mata , sisa seberapa kuat lagi saya akan bertahan untuk memenuhi sampai buah hasil yang memuaskan. Dan alhamdulillah saya hari ini masih tetap bisa mengenyam pendidikan dengan hasil keringat sendiri sedikit demi sedikit dengan beberapa tambahan kerja paruh waktu.

Tetap semangat mengejar impian , rintangan itu pasti sebab disitu akan membentuk pribadi yang lebih tangguh lagi dan berkualitas. Semoga bisa menginspirasi wanita-wanita di luar sana yang terkungkung dengan garis kemiskinan bahwa kita bisa memilih masa depan kita dengan sedikit berusaha diatas rata-rata orang yang diberikan kecukupan lebih dalam hidupnya. Tetaplah meraih impian sebab meraih impian bukan hanya untuk mereka yang memiliki kecukupan harta lebih tetapi hak semua orang untuk mengubah nasib mereka.Hanya sebagian rentetan gadis pelosok yang ingin bersinar dan bisa membantu orang-orang di daerahnya.

Biodata Penulis

Sumiara, lahir di sebuah pulau ujung Sulawesi , tepatnya  Kepulauan selayar 24 Juni 1993.  Status sekarang masih mahasiswa di Universitas Negeri Surabaya untuk tingkat Pascasarjana Pendidikan Dasar tepatya bulan Agustus 2017,pekerjaan tetap sekarang sebagai pelatih Hizbul Wathan di sekolah Muhammadiyah 24 Surabaya serta guru less di lembaga kursus BETA SMART Surabaya.Kontak person 085255843378,media sosial FB: sumiaraaisyahayundapinus,IG:sumiaraaisyah74 serta email :sumiaraaisyah74@gmail.com.