This is a challenge not a problem

By: On:
This is a challenge not a problem

Selayarnews.com – Jangan remehkan kata-kata, istilah yang sepertinya sering kita dengar atau kita baca. Kata-kata mempunyai kekuatan yang luar biasa, dia memiliki kemampuan untuk membangun dan menjadikan sesuatu namun juga bisa menghancurkan sesuatu. Kata-kata bisa menjadi penyemangat dan memberikan kekuatan ataupun melemahkan. Kata-kata bisa menjadi pemersatu ataupun bisa menjadi pemecah belah. Kata-kata bisa mempengaruhi emosi dan tindakan manusia. Itulah kekuatan kata-kata.

Sebuah laporan hasil penelitian di Univeristy of California merangkum bahwa seseorang  ketika mendengar ujaran yang menyatakan bahwa usianya semakin bertambah tua, cara dia melangkah setelahnya menjadi lebih lambat, sebaliknya ketika seseorang diperdengarkan ungkapan-ungkapan kasih sayang, cinta, ungkapan positif, dan kata-kata penuh semangat nampak raut mukanya semakin ceria, semakin bersemangat, dan ekspresi kecemasannya berkurang. Meskipun penelitian lain menunjukkan bahwa kata-kata memiliki tingkat pengaruh yang berbeda-bedakepada setiap orang. Kata-kata yang memiliki pengaruh bukan Cuma dari kata-kata yang kita baca, kita lihat, ataupun yang kita dengar dari orang lain tapi juga ungkapan yang kita bisikkan pada diri kita sendiri. Ujaran pribadi atau kata motivasi yang datang dari dalam diri kita sendiri diyakini memiliki pengaruh yang paling besar dibanding apa yang kita dengar dari orang lain.

This is a challenge not a problem (ini sebuah tantangan bukan masalah), kata-kata sederhana yang patut kita ingat ketika berada pada situasi sulit atau kondisi yang bertentangan dengan apa yang kita harapkan. Kata-kata ini pertama penulis dengar dari seorang dosen yang ketika itu diminta untuk memberikan solusi terhadap kesulitan yang dihadapi. Penulis lebih memilih penggunaan kata masalah dibanding kata tantangan ketika itu. Sang dosenpun langsung menyela dan memotivasi dengan mengatakan ”This is a challenge not a problem”. Kata-kata yang nampak sederhana  namun patut kita perhitungkan dan gunakan ketika kita dalam keadaan atau kondisi yang tidak kita inginkan. Kata-kata tersebut terbukti dan penulis yakini bisa melahirkan pikiran positif dan memberikan energi lebih ketika kita berada dalam kondisi sulit. Merasakan manfaat dari kalimat tersebut, penulis merasa perlu untuk berbagi melalui tulisan ini dengan harapan bahwa orang lain bisa mengambil manfaat dari kata-kata tersebut- “this is a challenge not a problem.

Sebuah artikel yang ditulis oleh mahasiswa doktoral university of California menceritakanrasa tidak senangnya kepada orang yang terlalu gampang menggunakan kata-kata problemketika menghadapi situasi yang menantang. Menurutnya ketika seseorang menggunakan kata problem dia merasa bahwa orang itu telah menggantungkan dirinya pada sesuatu yang seakan-akan dia tidak bisa melepaskan diri dari benda itu dan tidak bisa berbuat apa-apa. Orang yang terlalu gampang memberikan label masalah pada setiap tantangan yang dihadapi menurutnya seakan akan menempatkan hal negatifsebagai bagain dari dirinya dan dia tidak bisa keluar dari zona itu. Padahal ketika kita lebih optimis dengan mengatakan bahwa apa yang kita hadapi adalah tantangan maka kondisinya akan lebih harmoni. Dengan memposisikan kesulitan sebagai tantangan maka tantangan itu bisa diibaratkan sebagai tamu di rumah kita yang datang sesaat dan harus kita layani dengan sebaik-baiknya. Tantangan mengasah kita untuk menjadi manusia yang lebih baik. Tantangan akan membuat kita lebih terasah, dan belajar hal baru.

Barbara Fredricksonseorang fisikolog dari Caroline University melakukan penelitian terhadap pengaruh dari membangun persepsi positif dalam merespon apa yang kita hadapi. Hasil temuannya menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki kecenderungan memandang sesuatu secara lebih positif membuat pikiran dan pandangannya menjadi lebih luas dalam memecahkan sebuah permasalahan. Sebaliknya kecenderungan untuk menanggapi kesulitan secara negatif akan melahirkan individu yang memiliki pandangan dan pemikiran yang lebih sempit. Hasilnya, akan semakin sedikit pilihan solusi ketika berada dalam situasi yang menantang.

Kebiasaaan menciptakan respon negatif mengakibatkan otak kita lebih cenderungmenciptakan hal-hal yang sifatnya melemahkan seperti: rasa khawatir, takut, marah, dan tingginya tingkat stress. Parahnya, hasil temuan Fredrickson menunjukkan bahwa perilaku negatif atau sikap pesimisme dalam memandang sebuah peristiwa tidak hanya mempengaruhi diri pribadi individu tapi juga orang-orang di sekitarnya. Pernahkah anda membayangkan bekerja dengan orang-orang yang pesimis dalam satu tim yang sama yang seakan akan menyerap semua energi yang kita miliki keluar ruangan meninggalkan ruang dimana kita sementara bekerja. Sebaliknya, orang yang selalu menumbuhkan optimisme dalam sebuah tim akan mendatangkan dan menumbuhkan energi positif yang kita miliki dalam bekerja.

Sebuah kisah yang pernah dialami seorang teman yang terjadi ketika masih SMA disaat tiga orang saudaranya sedang kuliah di pergurun tinggi. Pada saat yang bersamaan, orang tuanya sedang membangun rumah yang dipersiapkan untuk hari tua mereka. Dari sisi ekonomi, kehidupan keluarganya tergolong berat ketika itu, profesi ayahnya sebagai seorang pedagang disaat yang bersamaan juga membutuhkan modal kerja. Ringkasnya, proses yang dia lalui dimana harus membiayai ketiga orang anaknya yang sementara kuliah, kebutuhan dana untuk menyelesaiakn pembangunan rumah, serta kebutuhan dapur keluarga yang harus dipenuhi dalam waktu yang bersamaan. Ibunya pernah bercerita bahwa dia mendapati ayahnya menangis di dalam kamar sesaat setelah membuka dompet dan hanya menemukan selembar uang Rp. 20.000- ribu rupiah di dalamnya. Bisa kita bayangkan, uang Rp. 20.000- harus bisa mengakomodir keperluan biaya kebutuhan pendidikan serta kebutuhan anaknya yang tinggal di kota, kebutuhan akan modal untuk usaha, harus membeli keperluan sehari hari serta kebutuhan dana untuk melajutkan pembangunan rumah yang sementara dibangun. Dia melanjutkan cerita akan apa yang dilakukan ayahnya setelah itu. Dia bercerita dengan penuh rasa haru namun bangga akan sosok ayah yang telah membesarkannya. Ketika itu setelah sempat menangis, sang ayah segera beranjak dari kamarnya kemudian bergegas berangkat menemui rekan bisnis yang biasa membeli hasil alam yang ayahnya kumpulkan dari para petani. Menurut cerita, ayahnya mendatangi rekan bisnisnya bukan untuk minta pinjaman uang untuk sekedar memenuhi keperluan dapur, biaya kuliah atau untuk keperluan membangun rumah melainkan meminta bantuan modal untuk hasil alam yang dia janjikan akan segera dikumpulkannya. Ayahnya kemudian komitmen dengan janji, dan tidak patah semangat. Menurut ceritanya bahwa salah satu hal yang membuat ayahnya bersemangat ketika itu adalah ungkapan-ungkapan positif yang dia katakan pada dirinya sampai pada akhirnya masa sulit bisa mereka lewati.Sekarang anaknya telah berhasil menyelesaikan pendidikan di universitas dan berhasil menyelesaikan rumah yang mereka gunakan untuk masa tuanya.

Dari kisah ini ada hikmah yang bisa kita jadikan pelajaran sekaligus sebagai acuan dalam menghadai kesulitan yang kita alami. Seringkali respon awal kita dalam menyikapi sebuah tantangan nampaknya salah dengan gampangnya mengangap kesulitan yang kita hadapi sebagai sebuah “masalah” akhirnya kata masalah inilah yang akan tertabung kedalam bank pikiran kita sehingga pikiran kita akan dipenuh dengan perbendaharaan kata “masalah”, yang pada akhirnya  bisa menjadi salaha satu pemicu menurunnya semangat, kekuatan, dan optimisme  kita dalam bekerja.

Memandang kesulitan yang kita alami sebagai tantangan bukan sebagai masalah, akan memberikan nuansa yang berbeda dalam hal cara kita menyikapi kesulitan. Menganggap suatu kesulitan sebagai sebuah tantangan akan memberikan semangat untuk memikirkan solusi dan melakukan aksi. Memposisikan kesulitan sebagai tantangan, hanya akan membuat kita terhentak sejenak atau berhenti sejenak untuk kemudian mengumpulkan energi, memikirkan strategi, dan mencari solusi untuk menyelami masalah. Menganggap sesuatu itu sebagai tantangan akan memberikan rasa yakin untuk bisa menghadapi kesulitan dan melewatinya. Mungkin sebagian orang menganggap bahwa pembeda antara kesulitan dan tantangan hanya dari segi redaksi saja. Untuk kasus yang sama sebagian memandangnya sebagai tantangan dan sebagian lagi menganggapnya sebagai masalah. Namun cara pandang dan respon berbeda yang kita berikan tentunya akan memberikan hasil yang berbeda pula.

Sejarah mencatat tokoh yang nama dan kisahnya sering kita baca dan kita dengar yang biasa digunakan sebagai penyemangat, baik itu dalam bekerja, belajar ataupun berusaha seperti Thomas Alva Edison yang ketika melakukan percobaan penelitian dalam proses menemukan bola lampu, gagal lebih dari 9.900 kali tapi kemudian mengatakan, “Saya tidak gagal, saya telah berhasil menemukan lebih dari 9.900 elemen yang tidak bisa digunakan untuk membuat bola lampu. Sylvester Stallone ketika mencoba memasarkan script film Rocky, film yang mengisahkan perjalanan hidup seorang petinju, dia sempat ditolak selama 1.500 kali. Namun penolakan tidak mengendurkan semangatnya hingga pada akhirnya script film Rocky menjadi sebuah tayangan yang sangat diminati. Walt Disney Ketika mengajukan proposal Disney Land ke Bank-Bank yang ada di Amerika sempat ditolak sebanyak 320 kali sampai pada akhirnya bisa besar seperti sekarang. Penulis meyakini bahwa cara memandang dan kasus yang mereka hadapi pasti berbeda, namun kesamaannya adalah dari ketiga orang tersebut diatas memiliki optimisme didalam perjuangan dan usaha mereka. Kesulitan yang dihadapi dalam prosesnya dianggap sebagai sebuah tantangan, bukan murni sebagai sebuah permasalahan. Kita harus meyakini bahwa “sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Maka, apabila kamu selesai (dari satu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (Alam Nasyhrah (94) ayat 6-7.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi pembaca dan menjadi pengingat terutama bagi diri pribadi penulis.

Penulis:

Hasanuddin Rahman

Ketua IKA BOMA Kab. Kepulauan Selayar

Mahasiswa Ph.D Vrije University-Amsterdam

banner 468x60
Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d blogger menyukai ini: