Selayarnews– Pemerintah Desa Patilereng, Kecamatan Bontosikuyu, Kabupaten Kepulauan Selayar melaksanakan kegiatan Rembug Stunting sebagai salah satu tahapan dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) Tahun Anggaran 2026, Kamis (17/7/2025) pagi.
Kegiatan ini berlangsung di Aula Kantor Desa Patilereng, Dusun Lembang Jaya, dan dihadiri oleh berbagai unsur penting, di antaranya Camat Bontosikuyu Drs. Muhammad Aris, Tenaga Ahli Pendampingan Desa Yusdanial, Pendamping Desa Sukri Sukimam, SE. Kepala Desa Saharuddin Arif, Ketua BPD Irsyad, Ketua TP PKK Andi Surgawati, Babinsa Desa Patilereng Kaemuddin, Bhabinkamtibmas Dahniar, petugas Pustu Sukmawati, Amd. Keb. serta para kader, tokoh masyarakat, RT, RW, dan perwakilan kelompok sasaran.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Patilereng Saharuddin Arif menyampaikan bahwa Rembug Stunting merupakan momen penting untuk menyatukan persepsi dan komitmen dalam menyusun program yang tepat sasaran dalam rangka menurunkan angka stunting di desa.

“Dari hasil rembug tadi, kita bisa simpulkan bahwa yang paling berpotensi menjadi penyebab stunting adalah minimnya pendidikan, faktor perilaku, dan kondisi ekonomi keluarga. Ketiga hal ini harus menjadi fokus bersama dalam merumuskan langkah pencegahan ke depan,” ujar Saharuddin kepada media usai kegiatan.
Camat Bontosikuyu, Drs. Muhammad Aris, dalam arahannya juga menekankan bahwa penanganan stunting tidak bisa dilakukan secara parsial. Menurutnya, semua pihak harus terlibat aktif sejak dari pendataan hingga penganggaran program prioritas di desa.
“Upaya pencegahan dan penurunan stunting harus terintegrasi dalam RKPDes. Rembug seperti ini bukan hanya formalitas, tetapi sebagai landasan agar anggaran desa betul-betul menyentuh sasaran yang tepat, khususnya keluarga yang berisiko stunting,” tegas Camat Aris.
Tenaga Ahli Yusdanial dalam sesi diskusi turut menyoroti pentingnya konvergensi program lintas sektor di tingkat desa. Ia juga mengapresiasi Desa Patilereng yang telah menjalankan tahapan rembuk secara partisipatif.
Rangkaian kegiatan ini juga diisi dengan pemaparan kondisi stunting berdasarkan laporan kader dan tenaga kesehatan desa. Kebutuhan yang berkaitan dengan penguatan Posyandu, edukasi gizi, hingga intervensi berbasis keluarga dibahas secara terbuka untuk dimasukkan dalam dokumen perencanaan desa.
(Red)























