Selayarnews—Dalam beberapa bulan terakhir, praktik joged dalam acara pesta mulai terlihat di sejumlah wilayah daratan Kabupaten Kepulauan Selayar. Kehadiran hiburan tersebut memunculkan beragam respons di tengah masyarakat, mulai dari yang menilai sebagai bagian dari dinamika sosial hingga yang menyoroti aspek ketertiban dan pengawasannya.
Fenomena ini tidak muncul tanpa latar belakang. Berdasarkan penelusuran dan hasil wawancara di lapangan, kebiasaan menghadirkan pajoged dalam pesta telah lama dikenal di wilayah kepulauan Selayar, khususnya Kecamatan Pasimarannu, Pulau Bonerate, sebelum kemudian berkembang dan mulai terlihat di daratan.
Kebiasaan tersebut dijelaskan oleh Kapolsek Pasimarannu, Iptu Hasan, S.Sos., yang menyebutkan bahwa praktik joged saat pesta telah berlangsung puluhan tahun di wilayahnya dan berkaitan erat dengan latar budaya masyarakat setempat. Wawancara dilakukan pada Sabtu (31/01/2026).
“Benar, kebiasaan joged saat pesta ini sudah berlangsung puluhan tahun di Pasimarannu. Itu sebenarnya merupakan kebiasaan masyarakat Buton, karena sebagian besar warga Bonerate memang serumpun dengan masyarakat Buton di Sulawesi Tenggara,” ujar Iptu Hasan.
Ia menjelaskan, praktik joged tersebut sejak dahulu telah memiliki pola sosial yang jelas dan teratur. Para penari yang dikenal sebagai pajoged, umumnya perempuan, disiapkan oleh pemilik hajatan dan ditempatkan pada deretan kursi tertentu sebelum sesi hiburan dimulai.
“Setelah acara resmi pesta selesai dan masuk sesi hiburan, pengunjung bisa memilih salah satu pajoged untuk ditemani joged. Sistemnya bergiliran dan berantri, satu pengunjung biasanya satu lagu, kecuali kalau peminatnya sedikit bisa lebih,” jelasnya.
Menurut Iptu Hasan, pada masa awal hiburan joged di Bonerate hanya diiringi dengan pemutar VCD. Seiring perkembangan zaman, iringan musik beralih menggunakan organ tunggal, meski pola dasar joged tetap dipertahankan.
Lebih lanjut, ia membenarkan bahwa dalam beberapa bulan terakhir praktik joged tersebut mulai muncul di daratan Selayar. Awalnya, pajoged yang tampil berasal dari Bonerate, namun kemudian berkembang melibatkan remaja dari daratan Selayar sendiri.
“Awalnya memang pajoged ini berasal dari Bonerate, tapi sekarang sudah banyak juga remaja di daratan Selayar yang ikut joged. Salah satu faktornya karena ada nilai ekonomi yang cukup menjanjikan,” ungkapnya.
Hal tersebut dibenarkan oleh Kepala Desa Harapan, Kecamatan Bontosikuyu, Baknur Arfandy, yang akrab disapa Arman. Ia menyampaikan bahwa kebiasaan joged pesta kini telah muncul di wilayah daratan, termasuk di desanya.
“Benar, kebiasaan joged ini sudah ada di daratan, termasuk di Desa Harapan. Pajogednya bukan hanya dari Bonerate, tapi juga sudah banyak dari orang daratan Selayar sendiri,” kata Arman saat diwawancarai pada hari yang sama.
Dari sisi pengelolaan hiburan, Arman menilai joged pesta relatif lebih teratur. Menurutnya, tarif pajoged umumnya dihitung per orang dan per jam.

“50 ribu per jam untuk satu orang. Jadi kalau empat orang pajoged tampil, berarti 200 ribu per jam. Kalau sampai lima jam, totalnya sekitar satu juta rupiah. Biasanya juga ada saweran dari pengunjung,” jelasnya.
Ia menilai, pola joged yang diatur secara bergiliran justru dinilai lebih tertib dibandingkan hiburan elektone konvensional.
“Kalau elektone biasanya banyak yang naik ke depan panggung, bergumul, dan rawan berkelahi. Kalau joged ini diatur bergiliran, jadi relatif lebih aman,” ujarnya.
Meski demikian, Arman tetap menekankan pentingnya pengawasan. Ia berharap setiap pemilik hajatan tetap melaporkan kegiatan tersebut kepada pemerintah desa dan pihak kepolisian untuk mendapatkan izin keramaian.
“Kami berharap pemilik hajatan tetap melapor ke pemerintah desa dan ke Polsek supaya kegiatannya bisa diamankan dan tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan,” tegasnya.
Pandangan kehati-hatian juga disampaikan oleh tokoh masyarakat Bontomatene, Andi Mangindana, yang merupakan mantan Kepala Desa Onto. Ia membenarkan bahwa kebiasaan menghadirkan pajoged kini telah masuk di wilayah Bontomatene dan mulai menunjukkan kecenderungan dipilih sebagai hiburan pesta.
“Sekarang sudah mulai ada kecenderungan memilih joged dibandingkan elektone,” ujarnya.
Namun demikian, Andi Mangindana mengingatkan adanya potensi risiko yang perlu diantisipasi.
“Yang perlu dijaga adalah sebagian pengunjung yang tampil joged bersama pajoged itu kadang setelah mengonsumsi minuman keras. Ini yang perlu pengawasan,” ungkapnya.
Sementara itu, salah seorang manajer pajoged yang akrab disapa Abang membenarkan bahwa tarif pajoged umumnya sebesar 50 ribu rupiah per jam per orang. Dalam satu malam, rata-rata pajoged tampil selama empat hingga enam jam.
“Kalau dihitung, satu orang pajoged bisa dapat sekitar 250 ribu sampai 500 ribu rupiah sekali tampil,” jelas Abang.
Ia juga membandingkan kondisi saweran antara wilayah kepulauan dan daratan.
“Kalo di Pulau itu saya dengar sawerannya banyak-banyak, ada yang sampai 500 ribu hingga satu juta. Kalo di daratan biasanya 50 ribu, seratus ribu sampai 500 ribu paling banyak,” katanya.
Terkait intensitas tampil dalam sepekan atau sebulan, Abang mengaku tidak berani menyimpulkan.
“Itu tergantung banyaknya pesta atau hajatan. Jadi tidak menentu,” ujarnya.
Seiring perkembangan teknologi, praktik joged pesta juga mulai terdokumentasi dan tersebar melalui media sosial. Kondisi ini berkembang karena adanya potensi ekonomi tambahan, baik dari meningkatnya popularitas pajoged maupun dari aktivitas digital yang menyertainya.
Namun demikian, para pihak yang terlibat tetap menekankan pentingnya pengawasan, perizinan, serta pengendalian agar praktik hiburan tersebut tetap berjalan tertib dan tidak menimbulkan dampak sosial yang dapat berimplikasi negatif baik bagi pribadi maupun lingkungan masyarakat umum.
(Red)























