Selayarnews-Kisah Bulaenna Parangia merupakan legenda kepahlawanan yang berasal dari Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Cerita ini mengisahkan tentang Raja Tanete, yang bernama asli Maddukelleng Dg Silasa, yang dikenal dengan gelar kehormatan Bulaenna Parangia, atau dalam bahasa Indonesia berarti “Emas dari Parangia”.
Dari cerita yang dikisahkan turun temurun, Maddukelleng Dg Silasa adalah seorang raja yang sangat dihormati dan dicintai oleh rakyatnya. Ia adalah perpaduan antara kepemimpinan, keberanian, kesetiaan, keikhlasan dan Kasih Sayang.
Keberaniannya dikisahkan saat menghadapi ancaman serangan dari pasukan Serang, beliau memanggil seluruh keluarga dan rakyatnya untuk berkumpul.
Ia mengetahui bagaimana Serang telah bersekutu dengan VOC yang membuatnya dilengkapi dengan persenjataan yang lebih modern berupa bedil dan meriam.
Dikutip dari historial.id, Pada saat Bulaenna Parangia memanggil seluruh keluarga, baik yang dekat maupun jauh, termasuk mereka yang berada di seberang laut. Keluarga bangsawan maupun bukan bangsawan, sepupu, dan ipar semuanya diundang untuk berkumpul di Istana Balla Lompoa.
Tak lama kemudian, seluruh keluarga pun hadir dan duduk bersila dengan rapi di hadapan Bulaenna Parangia Parammatana Munteya. Di antara yang hadir, terdapat sepupunya yang bernama Opu Etang, yang juga duduk rapi di hadapan beliau.
Saat musyawarah berlangsung, Bulaenna Parangia menyampaikan sebuah kabar penting yang harus diketahui oleh semua yang hadir.
“Wahai rakyatku yang hadir, dan seluruh keluarga yang ada di hadapanku. Saya kabarkan bahwa dalam waktu dekat, daerah kita akan terkena musibah. Musuh akan datang menyerang. Oleh karena itu, saya mengumpulkan kalian semua, semua tubarani, pemberani yang pantang menyerah.”
Kalian yang berani bertarung di medan laga, yang tak gentar menghadapi senjata tajam, tombak, dan berani dalam tebas menebas, tikam menikam. Kalian yang tak pernah takut di medan pertempuran, saling beradu kekuatan dari utara ke selatan, barat ke timur, berlaga seperti kuda, dan seperti kerbau saling menanduk di lapangan yang luas.
Setelah menyampaikan pesan tersebut, Bulaenna Parangia, seorang lelaki yang pantang mundur dan panutan bagi masyarakatnya, terdiam sejenak.
Kemudian, sepupunya, Opu Etang, mengajukan sebuah usul.
“Wahai Karaeng, alangkah baiknya jika kita memanggil seluruh pendekar (tubarani) untuk dikumpulkan, para tubarani yang pantang mundur di medan laga,” usul Opu Etang.
Bulaenna Parangia menanggapi usul tersebut dengan tegas. Sikap kesatria beliau diuji pada saat itu. Pada waktu yang bersamaan, datanglah kesempatan untuk menghindari perang yang akan berkecamuk.
Sebuah pasukan besar yang diprediksi akan mengalahkan pasukannya yang lebih kecil, tidak membuatnya berniat untuk lari. Padahal, jika Bulaenna Parangia memilih untuk memenuhi undangan dari Ujung Pandang, rakyatnya pun akan memaklumi dan bahkan banyak yang mengharapkannya.
Rakyat Tanete yang mencintai rajanya berharap agar ia pergi menghindari perang untuk terhindar dari takdir kematian.
Namun, Bulaenna Parangia tetap memilih untuk tinggal dan berjuang.
“Opu, pergilah menggantikan saya berlayar ke Ujung Pandang atas undangan dari Tuan Kalompoang. Sebab saya seperti melihat pada tengah malam terdengar bunyi genderang perang di dataran ini dan akan terjadi malapetaka.”
“Opu Etang, mintakan senjata sebanyak-banyaknya dan baju besi empat puluh. Perlengkapan ini akan dipakai untuk menghadapi musuh yang akan datang menyerang. Kita akan melihat siapa yang jantan dan siapa yang penakut. Sampaikan permintaan maafku karena tidak dapat hadir. Ini tidak biasa, saya sangat malu terhadap sesama raja,” katanya.
Setelah menerima perintah, Opu Etang pun berlayar ke Makassar bersama Opu Sampuloia Se’re (Pejabat Kerajaan). Meskipun hatinya ragu, karena ia juga merasa pasukan Raja Serang Ratuna Pua-pua akan segera datang, ia tetap berangkat.
Tak lama setelah kepergian Opu Etang, datanglah Suro, abdi kerajaan yang patuh kepada perintah raja, memasuki pekarangan Balla Lompoa. Dengan langkah penuh hormat, Suro mendekat dan melaporkan kepada Bulaenna Parangia.
Salah satu nilai yang terkandung dalam naskah Sinrilik Bulaenna Parangia adalah semangat juang yang pantang mundur, sebagaimana yang disampaikan oleh Raja Tanete kepada Opu Bira Daeng Mattalli dan I Bo’da Daeng Siboja:
“Sebaiknya Baginda kembali pulang ke istana, dan kembali ke kampung halaman. Pasukan yang akan kau hadapi adalah musuh yang banyak, kuat, dan sangat kejam di bawah perintah para kaptennya,” kata Opu Bira Daeng Mattalli.
Mendengar hal itu, Bulaenna Parangia berpaling dan berkata, “Rupanya kau tidak tahu diri, sudah disayang, dan dikasihani, kau malah memudarkan semangatku. Orang yang tidak punya malu, tidak punya rasa persaudaraan. Aku malu kembali, pantang mundur. Bila aku kembali, aku akan turun martabatku, hina diriku. Malu saya akan ditombak seperti babi, diusir laksana kerbau, dikejar bagaikan kuda.”
“Aku adalah lelakinya lelaki, jantannya jantan. Tidak ada seorang pun yang kutakuti, tak seorang pun pendekar kusegani, tak juga orang kebal kuhindari, dan tak ada pasukan yang tak kuhadapi,” tegas Maddukelleng Dg Silasa.
Mendengar ucapan tersebut, Opu Bira Daeng Mattalli pun pergi bersama pasukannya, sementara Bulaenna Parangia bersiap untuk pertempuran yang semakin dekat, meskipun ia tahu bahwa saat-saat terakhirnya sudah semakin dekat.
Saat ribuan pasukan Serang datang menyerang di Pantai Tanete, Bulaenna Parangia tampil di depan memimpin langsung rakyatnya. Dalam pertempuran tersebut, ia bersama dua pendekarnya, I Mappa Daeng Siratang dengan keris Lamba Tallua, dan I Masere Daeng Situju dengan keris Sipukalaya, berhasil menaklukkan ribuan pasukan Serang. Namun, ketiganya gugur karena kelelahan setelah pertempuran yang sengit.
Kisah kepahlawanan ini dilestarikan melalui sinrilik, yaitu bentuk sastra lisan tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Sinrilik Bulaenna Parangia mengandung nilai-nilai keberanian, pengorbanan, dan kesetiaan yang menjadi inspirasi bagi masyarakat Selayar .
Dari berbagai sumber, Bulaenna Parangia dipercaya sebagai keturunan bangsawan lokal Selayar atau memiliki hubungan darah dengan elite Kesultanan Gowa. Beberapa versi menyebut ayahnya sebagai Karaeng Laikang pemimpin pesisir Selayar yang berafiliasi dengan Gowa.
Tradisi lisan menyebut ibunya berasal dari keluarga pemuka adat Tanadoang (Julukan Untuk Pulau Selayar), menunjukkan perkawinan politik antar kelompok penting di Selayar. Cerita rakyat menyebut ia memiliki saudara bernama I Daeng Mallomo , yang dikenal sebagai panglima perang.
Masa kecilnya dibesarkan dalam lingkungan istana (saporaja) atau rumah bangsawan dengan pendidikan tradisional. Ia dan beberapa temannya memiliki kemampuan navigasi, perdagangan, dan strategi perang laut karena Selayar adalah wilayah kepulauan.
Dalam beberapa catatan juga disebutkan bahwa ia menikah dengan I Daeng Tamemang dan memiliki beberapa anak, salah satunya Daeng Pasau, yang kelak menjadi penerus kepemimpinan di wilayah Pasitanete.
Kehidupan pribadi Bulaenna Parangia mencerminkan dinamika masyarakat Selayar yang multikultural, religius, dan gigih mempertahankan identitas. Meski detailnya perlu verifikasi, kisahnya menjadi cerminan nilai-nilai kepemimpinan lokal Sulawesi Selatan.
(Tim Redaksi)
Disclaimer:
Tulisan di atas diperoleh dari berbagai sumber yang kebenarannya masih membutuhkan penelitian, karena sumber tertulis yang sangat minim dan kemungkinan sudah bercampur dengan mitos.























