Selayarnews– Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kepulauan Selayar secara tegas menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang diumukan Presiden Jokowi hari ini, mengingat kondisi ekonomi masyarakat saat ini belum sepenuhnya pulih pasca pandemi Covid-19.
Ketua KNPI Selayar, Akbar Putra mengatakan pihaknya telah bersurat ke DPRD Selayar terkait penolakan atas kenaikan BBM yang dinilai akan menghambat kesejahteraan rakyat.
“KNPI Selayar secara tegas menolak kenaikan BBM karena kondisi kita saat ini secara ekonomi belum sepenuhnya pulih pasca pandemi, kita juga telah bersurat ke DPRD Selayar untuk menyampaikan penolakan kami ke PT Pertamina Indonesia terkait hal ini,” kata Akbar, Sabtu (3/8/2022).
Akbar menyampaikan beberapa alasan penolakannya terkait kenaikan harga BBM yang diumumkan pemerintah, kenaikan BBM tersebut akan menurunkan daya beli yang sekarang ini sudah turun 30 persen. Dengan kenaikan harga BBM, daya beli akan turun lagi menjadi 50 persen.
“Penyebab turunnya daya beli adalah peningkatan angka inflasi menjadi 6,5-8 persen, sehingga harga kebutuhan pokok akan meroket,” ujarnya.
Menurutnya, kenaikan harga BBM ditengah turunnya harga minyak dunia tidak masuk akal. Ia menyebut pemerintah seolah mencari keuntungan ditengah kesulitan rakyat.
“Terlebih kenaikan ini dilakukan di saat negara lain menurunkan harga BBM, seperti di Malaysia dengan RON yang lebih tinggi dari Pertalite, harganya jauh lebih murah,” ucapnya.
Seperti diketahui, pemerintah baru saja mengumumkan kenaikan harga BBM bersubsidi dan nonsubsidi seperti Pertalite, Solar dan Pertamax. Menteri ESDM Arifin Tasrif merinci harga terbaru BBM bersubsidi dan nonsubsidi yang mengalami penyesuaian, diantaranya sebagai berikut.
1. Harga Pertalite dari Rp 7.650 per liter menjadi Rp 10.000 per liter;
2. Harga Solar subsidi dari Rp 5.150 per liter menjadi Rp 6.800 per l
Harga Pertamax dari Rp 12.500 menjadi Rp 14.500 per liter. (AJ)























