Selayarnews– Sejak pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax, kini warga Kepulauan Selayar tengah diperhadapkan dengan kelangkaan BBM jenis Pertalite.
Warga Benteng, Reza (25) mengaku sudah ada dua APMS resmi di Kota Benteng yang dikunjunginya, namun ia sama sekali tidak menemukan BBM berjenis Pertalite.
“Siang tadi saya ke 2 APMS di Benteng, dua-duanya tidak ada Pertalite, yang ada hanya Pertamax, itupun antreannya panjang sekali karena hanya 1 nosel yang digunakan,” kata Reza kepada pewarta, Rabu (6/4).
Hal yang sama terjadi, saat tim Selayarnews menelusuri beberapa pengecer BBM di Kota Benteng sama sekali tidak ditemukan BBM jenis Pertalite. Yang tersedia hanya Pertamax dengan kisaran harga yang terbilang cukup mahal, yaitu Rp 15 Ribu per Liter.
“Tadi saya beli pertamax 1 liter harga 15rb diselatan kantor Golkar, daripada ngantri, panas, puasa lagi mending hemat tenaga” kata Aan.
Walau belum diketahui pasti penyebab kelangkaan BBM jenis Pertalite di Selayar. Namun terungkap bahwa, pada akhir Maret 2022 yang lalu Kapal Tangker pengangkut BBM ke Selayar telah menyalurkan BBM jenis solar, pertalite dan Pertamax dengan jumlah yang sangat mencukupi, berdasarkan jumlah kendaraan dan kebutuhan harian di Selayar.
Dari hasil monitoring tim Selayarnews, Jumlah BBM yang tersalurkan ke Selayar pertanggal 29 Maret 2022, BBM Jenis Pertalite 110 Ton; Pertamax 125 Ton; dan Bio Solar 135 Ton; ditambah jatah khusus untuk Pertashop lebih dari 20 Ton.
Namun selang 3 hari, sejak 1 April 2022 stok BBM jenis Pertalite dan Solar di 3 APMS yang ada di Kepulauan Selayar amblas.
Menanggapi hal ini, Kepala Bagian Ekonomi Daerah Kepulauan Selayar Nadirah Basrum mengatakan bahwa kelangkaan stok BBM jenis Pertalite pada 3 APMS resmi di Selayar disebabkan karena belum masuknya kapal tangker untuk stok bulan April 2022.
“Stok BBM jenis Pertalite di 3 APMS habis, terakhir kedatangan tangker tanggal 27 Maret, untuk Bulan April kapal belum masuk. Terkait stok yang habis dalam tiga hari, mungkin karena selisih harga yang relatif tinggi dan membuat sebagian besar masyarakat berlomba-lomba membeli, bahkan disimpan untuk dijual kembali,” kata Nadirah kepada Selayarnews.
Sebelumnya, Pemkab Kepulauan Selayar juga telah membentuk badan penangan BBM yang disinyalir akan menjadi solusi terkait permasalahan BBM di Selayar, dalam hal peningkatan ketersediaan dan kelancaran distribusi. Tetapi kelangkaan BBM di Selayar tetap saja terjadi.
Untuk diketahui bahwa disamping 3 APMS Penjualan dan penyaluran BBM di Selayar didukung oleh 59 sub penyalur BBM yang terdaftar secara resmi. Sebanyak 2 sudah mengantongi izin lama dan bertambah signifikan sebanyak 57 Sub Penyalur pada tahun 2019.
Ke 57 Sub Penyalur tersebut diresmikan oleh Wabup Dr. H. Zainuddin, S.H., M.H. Pembentukan Sub Penyalur BBM saat itu dihadiri oleh Direktur Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Patuan Alfon Simanjuntak. Kebijakan pembentukan Sub penyalur ini sebagai jawaban Solusi untuk mempermudah penyaluran BBM di Selayar yang memiliki Wilayah yang luas dan terdiri dari kepulauan.
(AJ)























