Selayarnews-Kebakaran hebat yang melanda KM Barcelona V di perairan Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Minggu (20/7/2025), menewaskan tiga orang dan kembali membangkitkan ingatan akan tragedi tenggelamnya KM Lestari Maju di perairan Selayar pada 3 Juli 2018 silam, yang menewaskan 35 penumpang.
Meski penyebab dua insiden ini berbeda, namun keduanya sama-sama menjadi pengingat betapa pentingnya aspek keselamatan dan kesiapsiagaan dalam pelayaran laut antarpulau di wilayah timur Indonesia.
KM Barcelona V dilaporkan terbakar saat tengah dalam pelayaran dari Kepulauan Talaud menuju Pelabuhan Manado. Sekitar pukul 13.30 WITA, api mulai terlihat dari dek bagian bawah kapal, disusul kepulan asap hitam pekat yang membumbung ke udara. Kepanikan langsung melanda ratusan penumpang yang berada di atas kapal. Dalam video amatir yang beredar di media sosial, terlihat para penumpang mengenakan pelampung dan melompat ke laut untuk menyelamatkan diri. Sejumlah anak-anak dan balita juga ikut dievakuasi di tengah kobaran api yang semakin membesar.
Basarnas Manado bersama TNI AL, Polairud, dan sejumlah kapal sipil serta nelayan sekitar bergerak cepat melakukan evakuasi. Kapal KN Bima Sena, KRI Pari, KAL Tedung Selar, KM Cantika Lestari 9F, dan beberapa kapal lainnya dikerahkan ke lokasi. Para penumpang yang berhasil diselamatkan langsung dibawa ke Pulau Gangga II sebelum dipindahkan ke Pelabuhan Manado untuk mendapat perawatan medis dan pendataan. Dari total sekitar 280 penumpang yang tercatat dalam manifes, sebagian besar berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat, sementara tiga orang dinyatakan meninggal dunia, termasuk seorang ibu hamil.
Evakuasi cepat dan koordinasi terpadu dari berbagai unsur SAR dalam peristiwa ini menjadi sorotan, mengingat pada tragedi KM Lestari Maju tujuh tahun lalu, situasi jauh lebih sulit. Saat itu, KM Lestari Maju mengalami kebocoran lambung akibat cuaca buruk dan akhirnya kandas di perairan Pa’badilang, Selayar.
Evakuasi penumpang terhambat oleh gelombang tinggi dan keterbatasan alat, hingga menyebabkan 35 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka. Proses penyelamatan berlangsung dramatis karena sebagian penumpang masih terjebak di dalam kapal saat air mulai naik.
Perbandingan antara dua insiden tersebut memperlihatkan adanya peningkatan kesiapsiagaan dalam penanganan darurat laut. Dalam insiden KM Barcelona V, cuaca yang bersahabat dan cepatnya respon Basarnas dan TNI AL menjadi kunci keberhasilan evakuasi besar-besaran. Namun, tragedi ini juga kembali menyoroti pentingnya pengawasan terhadap standar keselamatan kapal, pelatihan awak dalam menghadapi keadaan darurat, serta penyediaan peralatan evakuasi yang memadai bagi penumpang.
Hingga berita ini diturunkan, penyebab kebakaran KM Barcelona V masih dalam penyelidikan. Dugaan sementara mengarah pada korsleting listrik di bagian bawah kapal, namun otoritas belum memberikan pernyataan resmi. Kementerian Perhubungan menyatakan akan segera melakukan audit keselamatan terhadap armada penumpang di seluruh jalur pelayaran timur Indonesia.
Tragedi KM Barcelona V dan KM Lestari Maju menjadi peringatan nyata bahwa keselamatan pelayaran harus menjadi prioritas utama. Dalam kondisi geografis Indonesia yang didominasi wilayah kepulauan, pelayaran laut bukan sekadar transportasi, tetapi juga urat nadi kehidupan masyarakat. Maka setiap kelalaian, sekecil apa pun, bisa berujung pada bencana yang merenggut nyawa.
(Red)























