Selayarnews – Tanaman jagung seluas kurang lebih 50 hektar di Desa Lambego, Kecamatan Pasimarannu, Kabupaten Kepulauan Selayar, kini telah berusia sekitar 1,5 bulan dan sebagian di antaranya mulai mengeluarkan bulir. Lahan yang juga merupakan bentuk dukungan terhadap Program Gerakan Menanam Batara (Gemetar) yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten tersebut, dikelola oleh masyarakat yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kalao Permai, Desa Lambego.
Kepala Desa Lambego, Mashuddin, mengungkapkan bahwa curah hujan yang cukup intens pada tahun ini membuat tanaman jagung milik warganya tumbuh relatif lebih subur. Selain itu, pada tahun ini masyarakat juga mulai beralih dari varietas jagung lokal dan mulai menanam jagung kuning (hibrida).
“Sebagian jagung lokal itu disimpan untuk persiapan konsumsi, sementara jagung kuning tentu untuk dijual,” ungkap Mashuddin kepada Selayarnews, Selasa malam (27/01/2026).
Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Desa Lambego telah membangun jalan tani sepanjang sekitar 3 kilometer guna memperlancar akses para petani. Selain itu, pemerintah desa juga menyalurkan bantuan yang bersumber dari dana ketahanan pangan.
“Kami memberikan bantuan berupa pagar kebun, racun rumput, dan racun hama, serta membangun sarana jalan tani sepanjang kurang lebih 3 kilometer,” tambahnya.
Kendati demikian, Masudin mengakui bahwa Dana Desa belum cukup memadai untuk membantu seluruh kebutuhan pertanian yang luasannya mencapai sekitar 50 hektar.
“Kendalanya biasanya hama dan ulat buah. Tapi semoga tahun ini tidak. Tentu jika ada intervensi bantuan dari Pemerintah Kabupaten, kami akan sangat bersyukur,” harapnya.
Ia juga mengaku belum mengetahui secara pasti skema pemasaran jagung kuning tersebut. Meskipun masa panen masih cukup panjang, Masudin berharap ke depan dapat diperoleh pembeli dengan harga yang mampu mensejahterakan para petani. Menurutnya, masyarakat baru pertama kali menanam jagung kuning, sehingga apabila harganya tinggi, hal itu akan mendorong petani untuk menanam lebih banyak jagung jenis hibrida yang memiliki potensi produksi lebih tinggi dibandingkan varietas lokal.
(Red)























