Selayarnews — Kabupaten Kepulauan Selayar yang memiliki wilayah laut sekitar 9.146 km² atau sekitar 87 persen dari total wilayahnya, tercatat memiliki pendapatan nelayan yang lebih rendah dibandingkan Kabupaten Sinjai dan Bulukumba. Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2024, pendapatan nelayan Selayar rata-rata berada di angka Rp13.233.728, pertahun, sementara Sinjai mencapai Rp49.132.276 dan Bulukumba sebesar Rp46.985.420, pertahun.
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa pendapatan nelayan Sinjai dan Bulukumba hampir tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan Selayar, meskipun kedua daerah tersebut memiliki wilayah laut yang jauh lebih kecil. Luas wilayah laut Selayar bahkan diperkirakan hampir sepuluh kali lipat dibandingkan Bulukumba, serta jauh melampaui wilayah pesisir Sinjai.

Kabupaten Kepulauan Selayar juga merupakan lokasi Taman Nasional Takabonerate, yang dikenal sebagai salah satu atol terbesar di dunia dan memiliki potensi sumber daya perikanan serta keanekaragaman hayati laut yang tinggi.
Sejumlah penelitian mencatat bahwa potensi tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan tingkat pendapatan nelayan. Penelitian oleh Institut Pertanian Bogor (IPB) di kawasan Taman Nasional Takabonerate menunjukkan adanya tekanan ekonomi yang mendorong sebagian nelayan melakukan praktik penangkapan yang tidak ramah lingkungan, yang berdampak pada menurunnya kualitas ekosistem terumbu karang sebagai habitat ikan. Temuan serupa juga dipublikasikan dalam jurnal pengelolaan sumber daya pesisir yang menyoroti dampak aktivitas tersebut terhadap keberlanjutan hasil tangkapan.
Selain itu, penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Kajian Agribisnis dan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan menyebutkan bahwa pendapatan nelayan Selayar dipengaruhi oleh faktor musim, jenis tangkapan, serta keterbatasan akses pasar dan distribusi hasil perikanan. Kajian lain dari UIN Alauddin Makassar juga mencatat bahwa nelayan di Selayar masih banyak mengandalkan metode tradisional dalam menentukan waktu dan lokasi penangkapan ikan.
Di sisi lain, sejumlah laporan lapangan menunjukkan bahwa aktivitas perikanan di wilayah perairan Selayar juga melibatkan pelaku dari luar daerah. Keterlibatan pedagang dan nelayan dari wilayah seperti Sinjai dan Bulukumba dalam rantai distribusi dan pemanfaatan hasil laut di kawasan ini menjadi salah satu fenomena yang tercatat dalam pemberitaan lokal dan kajian lapangan.
Data dan hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya ketimpangan antara luas potensi sumber daya laut yang dimiliki Kabupaten Kepulauan Selayar dengan tingkat pendapatan nelayan, di mana wilayah dengan cakupan laut yang jauh lebih kecil justru mencatatkan hasil ekonomi yang lebih tinggi.
(Red)























