Selayarnews.com – Arniansyah Longor, mungkin Ia salah satu orang luar Palu yang tiba di lokasi lebih awal. Ia masih mendapati air genangan dalam kota. Bahkan menurut kesaksiannya, kantor Polda di Talise masih terendam hingga pagar kantor tak terlihat. Ardiansyah bersama kawannya Ari, sempat membantu warga untuk melakukan evakuasi.
Anak anak Mamuju Trail Adventure Extreme( MATREX) ini , sejatinya ingin bergabung bersama warga Palu mengikuti pesta rakyat. 3 motor cross berada diatas mobil mereka. Berencana bergabung dengan anak anak motor dan mobil dari Mamuju Sulawesi Barat.
Namun gempa yang melanda sebahagian Sulawesi ini membayarkan rencana. Sebahagian kawan kawannya memutar arah balik ke Mamuju.
Ia bersama Ari memutuskan untuk lanjut. Mereka terhadang gempa saat masih berada di Pasang Kayu.
“Jelang Maghrib, kami tak bisa berkendara, tiang tiang listrik dan pohon kelapa berayun hampir bertabrakan” ujarnya.
Kami berhenti sekitar 10 menit sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Donggala, katanya pagi ini di kompleks kami. Suasana gelap, karena tak ada penerangan, beberapa rumah nampak hancur dan genangan air masih terlihat lanjutnya .
Sekitar Isya, kami masuk kota Donggala. Pemandangan kota miris, hancur oleh terjangan Tsunami, genangan air juga terlihat menggenangi kota Donggala.
Perjalanan mobil mereka akhirnya terhenti di perbatasan, saat akan masuk kota Palu. Jalan hancur dan suasana gelap. Hampir semua kendaraan berbalik arah pulang, termasuk mobil mobil medan berat IOF.
Longor panggilan akrabnya, akhirnya juga berbalik arah. Bahan bakar mereka tinggal 2 strip, tak bisa menjangkau kota Pasangkayu. Akhirnya memutuskan singgah di kembali di Donggala. Syukurlah mereka masih dapat bensin, di tengah kelangkaan.
Mereka memutuskan menginap di Donggala. Pagi hari, mereka menurunkan motor , dan menggeber motor medan berat ini melaju menembus kota Palu yang terisolir.
Mereka meniti diatas aspal yang mengerucut. Hamburan aspal berserakan di sepanjang jalan. Medan yang belum bisa dimasuki kendaraan roda empat. Penggiat motor cross sejak remaja ini bisa melewati medan yang rusak parah.
Sekitar pukul 7 pagi, mereka memasuki kota Palu yang sudah hancur. Mereka tak mengenali lagi daerah yang mereka lalui, banyak bangunan yang rata dengan tanah, terutama di sepanjang pantai.
Baru sekitar pukul 10 pagi, mereka melihat bantuan datang . Sekitar 6 polisi dan beberapa warga yang sudah turun dari pengungsian. Mereka membantu warga setempat, hingga sore hari sebelum kembali ke Mamuju.
Koneksi komunikasi timbul tenggelam, untung saja kami mengganti mobil sehingga kami menunda keberangkatan, jika tidak , mungkin kami termasuk korban tsunami di kota Palu ungkapnya menutup percakapan kami.
Oleh : Muh Yusuf Saleh























