Selayarnews-Stok kelangkaan dan tingginya harga minyak goreng di pasaran membuat sebagian masyarakat mengeluh, tak terkecuali di Kepulauan Selayar.
Keluhan tersebut datang dari emak-emak hingga pedagang makanan cepat saji yang menggunakan minyak goreng sebagai bahan baku pembuatan makanan.
Melihat kondisi tersebut, mungkin sudah waktunya kita beralih ke alternatif pengganti minyak goreng yakni menggunakan minyak kelapa untuk memasak.
Seperti yang dilakukan emak-emak di Pulau Jinato, Taka Bonerate, Kepulauan Selayar.Minyak kelapa menurut warga Pulau Jinato, bisa digunakan untuk memasak dan menumis. Bahkan kelebihannya membuat masakan lebih beraroma.
Pembuatan minyak goreng dari minyak kelapa telah menjadi rutinitas warga Pulau Jinato, secara turun temurun. Bahkan sebelum minyak goreng langka di pasaran seperti saat ini.
Hal tersebut diungkapkan oleh warga Pulau Jinato, Asri (39), menurutnya selain menjadi bahan baku untuk memasak, minyak kelapa yang diolah oleh emak-emak Pulau Jinato juga menjadi ajang silaturahim antar warga. Karena proses pengerjaannya dikerjakan secara beramai-ramai.
“Sebelum minyak goreng langka di pasaran seperti sekarang, ibu-ibu di Pulau Jinato tetap menggunakan minyak kelapa untuk memasak. Yang secara turun temurun dilakukan. Mereka ramai-ramai bikin, dan nanti kalo sudah jadi baru dibagi-bagi,” kata Asri kepada Selayar News, Rabu (2/3).
Menurut Asri, dalam tiap liter minyak kelapa dibutuhkan 10 biji buah kelapa. Proses pengerjaan yang dikerjakan secara bersama-sama biasanya sampai 10 liter dalam dua hari kerja. Karena proses penggorengan santan kelapa yang memakan waktu 4 – 5 jam.
“Seratus buah kelapa jadinya 10 liter minyak,” pungkasnya.
Kepulauan Selayar sebagai wilayah yang kaya akan komoditas kelapa diharapkan mampu mengatasi kelangkaan minyak goreng dengan alternatif ini. Emak-emak Pulau Jinato dapat dijadikan contoh bahwa kelangkaan minyak goreng bukan alasan untuk mencari solusi dan alternatif lain untuk memasak.”
Ini bagus sebagai informasi buat warga Selayar. Karena Selayar kaya akan kelapa. Kita bisa atasi ini jika ibu-ibu turun menyelesaikan bersama. Jinato contohnya,” imbuh Asri. (AJ)























