Selayarnews– Sombala ngalleko anging
Gulingpatiko ri je’ne
Laliba battu ri labuang biasana
I nakke ana’ kamase
Manyombalang bara’ karring
Lataba russa
Nakudengka tolong jaha
Berlayar meninggalkan selayar menuju tanah harapan telah berlangsung semenjak ratusan tahun yang lalu, mulai dari zaman kapal layar sampai hari ini kapal mesin. pelayaran melintasi samudera telah dilakukan oleh masyarakat dengan berbagai alasan.
Di masa lalu pelayaran dilakukan untuk pergi merantau, alasan berikutnya adalah pergi meniggalkan selayar dengan tujuan kawin lari/assilariang. beberapa waktu terakhir 1960an sampai hari ini alasan meninggalkan selayar adalah pergi melanjutkan sekolah.
Setelah tamat SMA generasi muda selayar berangkat pergi berlayar untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, apakah itu di Makassar, Palu, Kendari bahkan sampai ke pulau Jawa, seperti misalnya di Jogjakarta sampai ke Bogor, Jakarta dan Bandung.
Di masa lalu tantangan dalam pelayaran adalah musim, apakah itu musim barat atau musim timur, sama-sama memiliki tantangannya. Musim barat dikenal dengan barat 40 hari, dimana ombak dan angin sepanjang 40 hari menghantam pesisir barat pulau selayar tiada henti, saat seperti ini, sangat sedikit pelaut yang berani pergi berlayar menuju ke utara, daratan sulawesi bagian selatan, bulukumba atau bantaeng, sebagian berlayar menuju ke selatan, ke pesisir Nusa Tenggara Timur dan Barat dan yang lainnya berlayar menuju ke barat, ke surabaya sampai ke semenanjung malaya di pulau sumatera.
Demikian juga di musim timur, pelayaran di musim ini dikenal dengan istilah je’ne kebo’, begitu derasnya ombak menggulung, sampai laut kelihatan putih bergelombang. Belum lagi bahaya lainnya, dikenal sebagai kala-kala, pusaran air laut yang berputar bergelombang, kala-kala ini termasuk yang paling ditakuti saat pelayaran.
Salah satu pegangan dalam pelayaran adalah keyakinan bahwa kapal akan sampai di dermaga tujuan. Hilangkan sifat takut apalagi ragu-ragu. Berlayar butuh keberanian dan tekad, karena yang akan dihadapi adalah angin kencang dan ombak besar yang tidak bisa diketahui berapa lama akan berada di lautan. Apalagi di masa lalu semua kapal laut hanya bergantung kepada layar. Kelong berikut ini menjelaskan kepada siapa saja yang akan berlayar untuk mempersiapkan diri dengan baik serta menghilangkan semua keraguan yang ada:
Laku atte’
Pa’limbanta
Ripattaena i
Sipa bata-batanni
Laku atte’, telah kutetapkan, pa’limbanta, hari pelayaran kita, ripattaena I, hilangkan semua, sipa’ bata-batanni, perasaan khawatir dan ragu-ragu. Seperti itu para orang tua di masa lalu mengajarkan kepada anak-anaknya ilmu tentang pelayaran. Seperti pepatah suku bugis-makassar yang sangat terkenal sebagai berikut:
Ta’kunjunga bangun turu’
naku gunciri gulingku,
kualleangi tallanga na toaliya
Begitu mata terbuka di pagi hari, arahkan kemudi, tetapkan tujuan, pasang tekad, lebih baik tenggelam dari pada balik haluan.
Panyombalang, pergi merantau di masa lalu dilakukan karena latarbelakang kehidupan yang sulit di selayar. Kemiskinan adalah alasan utama orang selayar pergi merantau ke negeri orang.
Masyarakat selayar di masa lalu menggantungkan kebutuhan pangan kepada umbi-umbian dan jagung disamping tanaman pisang yang menghiasi kebun mereka. Tidak banyak pilihan makanan yang tersedia, jagung diolah menjadi bassang (jenis makanan yang dibuat dengan memasak butiran-butiran jagung), ditambah ubi kayu yang juga kebanyakan dimasak untuk kemudian dimakan. Beras adalah makanan langka di masa lalu, apalagi sumber beras di selayar boleh dikatakan saat itu sama sekali tidak ada.
Cerita tentang kampung, dulu masyarakat selayar kebanyakan tinggal di kebun, rumah-rumah mereka berkelompok-kelompok di kebun masing-masing, sehingga sulit untuk dikatakan sebagai sebuah perkampungan, memasuki tahun 1960an sampai 1970an baru kemudian disatukan dalam satu wilayah atau perkampungan. Perkampungan itulah yang membentuk wajah selayar sampai hari ini.
Dari cerita diatas dapat kita simpulkan bahwa kehidupan masyarakat di masa lalu begitu bergantung dari hasil kebun yang mereka olah, itulah sebabnya jika terjadi gagal panen akan menyebabkan terjadinya krisis pangan di tengah-tengah masyarakat. Sampai pernah terjadi di masa lalu, masyarakat selayar menjadikan gadung dan biji mangga sebagai makanan utama saat dimana kebutuhan pangan seperti ubi kayu dan jagung gagal panen.
Kondisi kemiskinan mendorong masyarakat untuk pergi merantau (hijrah) dengan harapan menemukan kehidupan yang lebih layak di negeri orang. Kelong berikut ini menggambarkan komunikasi antara bapak dengan anak-anaknya, atau antara suami dengan istrinya, atau antara sepasang kekasih dimana pacarnya akan pergi merantau tentang beratnya perjuangan itu:
Gele haje’ pa’lampanni
Gele Dodolo panyombalanni
Gele tolobang
Lari kanre manjeng-manjeng
Gele haje’pa’lampanni, pergi merantau itu tidak seenak dan semanis kue haje’, gele dodolo panyombalanni, pergi merantau itu tidak seenak dan selezat kue dodolo, gele tolobang, bukan juga seperti kue tolobang, lari kanre manjeng-manjeng, yang dimakan dengan duduk santai diatas kursi goyang.
Kelong diatas menceritakan kepada kita bahwa merantau adalah pekerjaan yang tersulit untuk dilakukan. Butuh tekad yang kuat. Apalagi harus meninggalkan anak istri, atau meninggalkan orang tua, atau pacar. Belum lagi situasi sulit yang akan dihadapi diawal hari saat sampai di tempat tujuan. Sampai ada pekerjaan tetap yang bisa menjadi jaminan kelangsungan hidup di daerah orang.
Memikirkan itu semua, sampai lahirlah kelong diatas, kelong yang sebenarnya memberikan rasa pesimis kepada para perantau, kelong yang sebenarnya melarang orang-orang dekat mereka untuk pergi meninggalkan selayar, apalagi belum tentu bisa bertemu kembali. Tahun-tahun yang panjang akan setia menanti, sampai engkau bisa kembali pulang ke selayar dengan selamat.
Kamase nutide’ inni
Nuampanni lari boja
Ri labbang-labbang
Buttana tau sunggunni
Kamase nutide’ inni, sungguh pahit yang tiada berpunya, nuampanni lari boja, yang baru akan diusahakan mendapatkannya, ri labbang-labbang, pergi merantau, buttana tau sungguni, ke daerah orang yang maju dan sejahtera.
Kelong diatas adalah kelong panyombalang /perantau yang sesungguhnya, kamase nutide’ inni, orang yang tiada berpunya, baru akan memulai usahanya, pergi jauh merantau ke daerah orang, untuk mendapatkan pekerjaan agar mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang baik dan gaji yang layak, supaya hasil usahanya bisa dikumpul-kumpul sedikit demi sedikit untuk kemudian digunakan dalam menghidupi keluargnya.
Lampaki bella-bella
Nyombala geleki muliang
Naero’jaki
Lampaki ri pulau wetar
banyak kelong yang menggambarkan bagaimana situasi saat-saat masyarakat selayar akan berangkat pergi merantau. Salah satunya kelong tentang orang yang akan meninggalkan selayar karena kasus assilariang atau kawin lari. Lampaki bella-bella, mari kita pergi jauh, nyombalaki geleki muliang, pergi berlayar untuk tidak kembali lagi, naero’ jaki, jika saja kita ingin pergi, lampaki ri pulau wetar, kita berlayar ke pulau wetar.
Ada kisah sedih dari masa lalu, dimana seorang pemuda pergi merantau jauh ke pesisir pulau sumatera, meninggalkan kekasihnya di tanadoang (selayar), sesampainya disana, di pulau tempat tujuan, dia kemudian memulai kehidupan baru, pekerjaan apa adanya untuk mendapatkan hasil.
Walaupun sudah bekerja, apalagi pekerjaan disana sangat berat namun dia tidak pernah mengeluh, beban pekerjaan baginya bukan sesuatu yang membebani pikirannya, tetapi beban pikiran itu ternyata jauh lebih berat dari pekerjaan sehari-hari yang dilakukannya.
Baru dia sadari kemudian bahwa perasaan rindu kepada kekasihnya adalah pekerjaan yang sangat berat, melebihi beratnya pekerjaan yang dilakukannya, sampai di suatu senja diapun kemudian membuat sebuah kelong untuk dinyanyikan sebagai berikut:
Laku pasangko natea
Lakualleko na dere
Jari kusa’ring
Geleja mukamaseang
Laku pasangko natea, kutitip pesan untuk datang menyusulku, tetapi engkau tidak mau, lakualleko na dere, aku ingin pulang menjemputmu, tetapi kita terpisah jarah yang jauh, jari kusa’ring, sampai saya merasakan, geleja mukamaseang, bahwa kamu tidak menyayangiku.
Kelong diatas dinyanyikan untuk melepas rindu kepada kekasihnya di tanadoang selayar, bahwa dia telah mengirim pesan agar bersedia datang menyusul, tetapi sang kekasih tetap ingin di selayar, dia kemudian berniat untuk kembali ke selayar menjemput kekasihnya, itupun terkendala oleh jarak yang sangat jauh, akhirnya dia kemudian berkesimpulan bahwa serasa kekasihnya di selayar tidak lagi menyayanginya.
Beban itulah yang terus menghimpit pikirannya, jangan-jangan kekasihnya di selayar telah berpaling ke lain hati? Kesetian yang dibangun selama beberapa masa-masa indah di selayar akan sirna dan hilang begitu saja. Sampai diapun menulis lagi kelong-kelong yang menggambarkan kepedihan yang dideritanya di negeri rantau, di pesisir pulau sumatera sebagai berikut:
So’di biasa muno cinnanni
Matema nakke
Pengeranginna
Cinna silabu-labunni
So’di biasa muno cinnanni, andaikan saja cinta itu bisa membuatku mati, matema nakke, maka saya telah lama mati diperantauan ini, pangeranginna, akibat beban rindu, cinna silabu-labunni, dari perasaan cinta yang begitu dalam.
Seorang teman yang juga ikut merantau menghiburnya dengan sebuah kelong, dengan harapan dapat menghibur saudaranya yang menderita karena hubungan cinta yang berjauhan, diapun kemudian melantunkan kelong-kelong sebagai berikut:
Kapa’risammu
Gele gandengan sapeda
Lurangang oto
Dongkokang kappalanri’ba
Kapa’risammu, penderitaanmu saat ini, gele gandengan sapeda, tidak mampu dimuat dengan sepeda, lurangan oto, muatan mobil, dongkokang kappalanri’ba, sampai kapal terbang.
Dia berkata lewat kelong kepada saudaranya bahwa penderitaanmu hari ini tidak mampu dimuat dengan sepeda, mobil sampai pesawat terbang. Tetapi saudaraku ingat baik-baik pesanku, bahwa saya berani bersumpah dengan matahari dan rembulan, bahwa apapun yang akan terjadi di masa depan kamu akan tetap mendapatkan kekasihmu, dan menjadikannya sebagai istrimu, diapun menyampaikan satu lagi pesan lewat lagu kepada saudaranya, dengan harapan perasaannya dapat kembali pulih dan kembali bersemangat dalam bekerja di tempat perantauan mereka yang jauh dari selayar:
Sangali rua allowwa
Tunggeng tallu bulangia
Nagele jari
Cinna ripara bellaya
Sangali rua allowa, kecuali ada dua matahari kembar di langit bumi, tunggeng tallu bulangia, bulan terbelah menjadi tiga bagian, nagele jari, baru bisa tidak terjadi, cinna ri para bellaya, cinta diantara kekasih yang berjauhan.
Demikianlah suka duka, pisah temu, hidup mati, pasti akan dialami dalam kilasan hidup yang singkat di muka bumi ini, tantangan hidup di negeri rantau, mengingat keluarga, saudara, orang tua dan kekasih di selayar begitu berat demi mengejar kehidupan yang lebih baik dengan mencari peruntungan baru agar kelak sepanjang tahun-tahun berjalan nasib hidupnya, nasib keluarga dan rencana perkawinanya dapat terwujud dengan penuh kebahagiaan.
Sekali lagi
Kita ulangi kelong diatas
Untuk mengenang perjalanan
Perantauan masyarakat selayar
Di masa lalu
Sombala ngalleko anging
Gulingpatiko ri je’ne
Laliba battu ri labuang biasana
I nakke ana’ kamase
Manyombalang bara’ karring
Lataba russa
Nakudengka tolong jaha
Sombala ngalleko anging, sampaikan kepada layar, tangkaplah angin, agar perahu dapat melaju ke depan, gulingpatiko ri je’ne, jaga komudi kayu dibelakang perahu untuk terus bertahan dibawah air, laliba battu ri labuang biasana, agar dapat sampai di pelabuhan tujuan, I nakke ana’ kamase, saya seorang anak yang miskin, manyombalang bara’ karring, pergi berlayar di tengah musim barat, lataba russa, dihantam cuaca buruk ditengah lautan, nakudengka tolong jaha, diatas kapal saya hanya bisa duduk bersila, bertafakkur mohon pertolongan kepada Allah.
Ditulis Oleh : Andi Mahmud, ST (Disadur dari Album Rembulan Malam 2022).























