Penulis: Andre Suardi Piongdjongi
Celebes Scooter Party (CSP) XIX 2026 yang berlangsung selama dua hari, 6-7 Juni 2026, telah berakhir. Panggung dibongkar, para peserta kembali ke daerah masing-masing, dan Kota Benteng perlahan kembali ke ritme kesehariannya. Namun bagi Kepulauan Selayar, ada pelajaran besar yang tertinggal dari perhelatan yang hanya berlangsung beberapa hari tersebut.
Mungkin selama ini banyak yang memandang CSP hanya sebagai agenda tahunan komunitas scooter. Sebuah ajang berkumpul, riding bersama, menikmati hiburan, lalu selesai. Namun jika diamati lebih dalam, CSP XIX 2026 sesungguhnya telah memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah event komunitas.
Acara ini menjadi semacam etalase yang menunjukkan kepada banyak orang apa yang sebenarnya dimiliki Kepulauan Selayar.
Data panitia mencatat sekitar 2.850 peserta melakukan registrasi resmi. Namun jumlah peserta yang hadir diperkirakan mencapai sekitar 3.500 orang karena tidak sedikit yang datang tanpa melakukan registrasi. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia, menempuh perjalanan panjang melalui jalur darat dan laut hanya untuk menghadiri CSP XIX 2026.
Selama dua hari pelaksanaan kegiatan, ribuan skuteris memenuhi berbagai sudut Kepulauan Selayar. Mereka tidak hanya mengikuti agenda riding dan hiburan yang disiapkan panitia, tetapi juga menjelajahi pantai, desa-desa pesisir, pusat kota, rumah ibadah, hingga menikmati kehidupan masyarakat setempat yang selama ini hanya mereka lihat melalui media sosial.
Pertanyaannya, apa yang mereka bawa pulang setelah acara selesai?
Jawabannya ternyata bukan hanya cerita tentang scooter.
Media sosial para peserta justru dipenuhi foto-foto pantai, hamparan laut biru, jalanan pesisir yang panjang, deretan pohon kelapa yang membentang di sepanjang perjalanan, matahari terbenam yang memukau, hingga keramahan masyarakat yang mereka temui selama berada di Selayar.
Tanpa disadari, ribuan peserta tersebut telah menjadi duta wisata yang mempromosikan Selayar secara sukarela kepada teman, keluarga, dan komunitas mereka di seluruh Indonesia.
Dalam dunia pariwisata modern, promosi seperti ini memiliki nilai yang sangat besar. Sebab yang berbicara bukan baliho, bukan iklan, dan bukan pemerintah. Yang berbicara adalah pengalaman nyata para pengunjung.
Ada satu kesan yang paling sering muncul dalam berbagai percakapan peserta.
Selayar dianggap sebagai daerah yang masih asri.
Mereka melihat perbukitan hijau yang belum dipenuhi bangunan beton. Mereka melewati jalan-jalan yang diapit ribuan pohon kelapa. Mereka menemukan pantai-pantai yang masih bersih dan alami. Banyak peserta mengaku merasakan suasana yang mulai sulit ditemukan di berbagai daerah lain yang telah berkembang pesat.
Bahkan beberapa peserta menyebut Selayar sebagai salah satu pulau yang masih mempertahankan wajah alaminya. Hamparan hijau masih mendominasi pemandangan. Pohon kelapa tumbuh hampir di sepanjang jalur yang mereka lintasi. Laut dan pantai masih terlihat bersih. Suasana pedesaan masih terasa kuat tanpa kehilangan keramahan terhadap pendatang.
Namun keindahan alam ternyata bukan satu-satunya hal yang membuat mereka terkesan.
Faktor keamanan menjadi cerita yang berulang kali muncul selama kegiatan berlangsung.
Beberapa peserta mengaku terkejut dengan kondisi keamanan yang mereka rasakan selama berada di Selayar. Ada yang meninggalkan kendaraan di pinggir jalan dalam waktu lama tanpa rasa khawatir. Ada yang memarkir scooter dan berjalan menikmati pantai tanpa terus-menerus memikirkan kendaraannya.
Bagi masyarakat Selayar, kondisi itu mungkin terasa biasa. Namun bagi tamu yang datang dari kota-kota besar, pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang istimewa.
Mereka merasakan sebuah rasa aman yang mulai sulit ditemukan di banyak tempat.
Namun mungkin cerita yang paling menggambarkan wajah asli Selayar justru bukan tentang pantai ataupun keamanan.
Cerita itu datang dari masyarakatnya.
Fathur, seorang skuteris asal Makassar, memilih berkemah bersama beberapa rekannya di pinggir pantai kawasan Appabatu. Mereka mendirikan tenda tidak jauh dari pemukiman warga dan menghabiskan malam dengan menikmati suasana pantai Selayar.
Pagi harinya mereka mendapatkan pengalaman yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
“Kami dibangunkan oleh seorang ibu bersama anaknya yang datang membawa satu teko kopi. Beliau bilang kopi ini untuk menghangatkan badan kami setelah semalaman di pantai. Jujur, ini sesuatu yang sangat sulit kami temukan di tempat lain,” cerita Fathur.
Secangkir kopi mungkin bukan sesuatu yang mahal.
Tetapi perhatian yang diberikan oleh orang yang bahkan tidak mereka kenal menjadi kenangan yang jauh lebih berharga daripada perjalanan itu sendiri.
Cerita serupa juga datang dari Gun, peserta CSP asal Makassar lainnya yang memilih bermalam di salah satu pendopo masjid di Kota Benteng.
Saat terbangun pada pagi hari, ia mendapati kopi hangat dan kue telah tersedia untuk para peserta yang menginap.
“Kami ini orang luar. Datang sebagai tamu. Tapi rasanya seperti pulang ke kampung sendiri. Ketika bangun pagi sudah ada kopi dan kue yang disiapkan pengurus masjid, itu membuat kami benar-benar merasa diterima,” ungkapnya.
Kisah-kisah sederhana seperti ini mungkin tidak masuk dalam rundown acara. Tidak tercatat dalam laporan panitia. Tidak pula muncul di atas panggung utama.
Namun justru pengalaman seperti inilah yang paling sering dibawa pulang wisatawan dan diceritakan kembali kepada orang lain.
Karena pada akhirnya, orang mungkin datang ke Selayar karena sebuah event.
Mereka mungkin tertarik karena scooter.
Mereka mungkin penasaran dengan keindahan pantainya.
Tetapi yang membuat mereka ingin kembali adalah cara masyarakat Selayar memperlakukan mereka.
CSP XIX 2026 juga memberikan pelajaran penting tentang kemampuan daerah ini menjadi tuan rumah kegiatan berskala besar.
Ribuan orang datang dalam waktu yang hampir bersamaan. Penginapan penuh. Pelabuhan ramai. Jalan-jalan dipadati kendaraan peserta. Aktivitas berlangsung hampir tanpa henti selama dua hari.
Namun secara umum situasi tetap aman dan kondusif.
Pengamanan yang dilakukan Polres Kepulauan Selayar melalui pengawalan Satlantas, patroli Samapta, pengaturan lalu lintas, serta penempatan personel di lokasi kegiatan berhasil menjaga seluruh rangkaian acara berjalan tertib.
Bahkan pendekatan humanis juga terlihat ketika Polsek Benteng membuka fasilitas kantor bagi peserta yang tidak mendapatkan penginapan. Mereka diberikan tempat beristirahat, fasilitas mandi, pengisian daya telepon genggam, hingga tempat memasak.
Bagi sebagian orang, tindakan tersebut mungkin terlihat sederhana.
Namun bagi para tamu yang datang dari jauh, pelayanan seperti itulah yang akan mereka ingat ketika kembali ke daerah asalnya.
Selama bertahun-tahun, banyak diskusi berkembang tentang arah pembangunan Kepulauan Selayar. Berbagai sektor tentu memiliki peran masing-masing dalam mendorong pertumbuhan daerah.
Namun CSP XIX 2026 memberikan bukti nyata bahwa pariwisata memiliki kemampuan yang luar biasa dalam menggerakkan ekonomi masyarakat secara cepat dan merata.
Hotel mendapatkan tamu. Homestay terisi penuh. Warung makan ramai. Kedai kopi dipadati pengunjung. Pedagang kecil memperoleh pembeli tambahan. Jasa transportasi mendapatkan pelanggan. UMKM memperoleh pasar yang lebih luas.
Uang yang masuk tidak berhenti pada satu sektor. Ia mengalir langsung ke masyarakat.
Dan yang lebih penting, promosi daerah terus berjalan bahkan setelah acara selesai.
Ribuan foto dan video yang kini tersebar di media sosial akan tetap menjadi etalase digital yang memperkenalkan Selayar kepada dunia luar.
Karena itu, pelajaran terbesar dari CSP XIX 2026 bukanlah sekadar suksesnya sebuah kegiatan komunitas scooter.
Pelajaran terbesarnya adalah bahwa Selayar memiliki modal yang tidak dimiliki banyak daerah lain.
Alamnya masih indah.
Lingkungannya masih asri.
Masyarakatnya masih ramah.
Situasi kamtibmasnya masih kondusif.
Dan yang terpenting, daerah ini masih mampu membuat seorang tamu merasa seperti pulang ke rumahnya sendiri.
Jika modal itu mampu dijaga dan dikelola dengan baik, maka CSP XIX 2026 mungkin suatu hari nanti akan dikenang bukan hanya sebagai pertemuan ribuan skuteris di ujung selatan Sulawesi.
Tetapi sebagai salah satu momentum yang membuka mata banyak orang tentang masa depan Kepulauan Selayar.
Sebuah masa depan yang bertumpu pada pariwisata, diperkuat oleh budaya masyarakat yang ramah, dan dijaga oleh keamanan yang membuat setiap orang merasa nyaman untuk datang, tinggal, dan kembali lagi.
CSP XIX 2026 mungkin hanya berlangsung dua hari. Tetapi dampaknya bisa bertahan bertahun-tahun. Karena yang pulang dari Selayar bukan hanya ribuan skuteris, melainkan ribuan orang yang kini membawa cerita tentang sebuah pulau yang masih hijau, masih aman, dan masih memuliakan tamu seperti keluarga sendiri.
Benteng, 8 Juni 2026























