Selayarnews– Misbach Daeng Bilok alias Misbah, pria kelahiran Makassar, 23 Maret 1978, dirinya mulai mengenal musik tradisional Sulawesi saat berumur 13 Tahun dan turut terlibat di beberapa sanggar seni di Selayar.
Kali pertama mendalami musik saat belajar di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Kota Makassar, dan dilanjutkan belajar di Kota Surakarta.
Di Kota Surakarta, ia belajar mengenai etnomusikologi, dan terlibat dalam beberapa pertunjukan yang berkolaborasi dengan pesohor ternama, diantaranya WS Rendra, Suprapto Suryodharmo, Dedek Wahyudi, Wukir Suryadi, Eko Suprianto, dan beberapa seniman lainnya.
Sebagai seorang seniman yang militan dalam berkarya, semua pengetahuan Misbah didapat dari belajar otodidak atau silaturahmi bersama seniman di nusantara.
Selain musik, Misbah juga tertarik dengan kekayaan dan ke-anekaan budaya di nusantara Indonesia. Ia percaya dengan bekal pengetahuan dan pengalaman, akan mencipatakan karakter dalam karya-karya dalam lingkungan masyarakat.
Adapun beberapa karya yang ia ciptakan selama menapaktilasi Kepulauan Selayar, diantaranya Aia to Huluk, yang bercerita tentang masyarakat pesisir di Selayar; Juku-Juku yang merepresentasikan keindahan bawah laut Pulau Selayar yang harus dijaga dan dirawat;
Selanjutnya ada Dangngong, yang terinspirasi dari suara angin yang terbentuk dari benturan pita atau daun lontar sebagai media untuk layangan atau pembacaan arah mata angin bagi nelayan dan beberapa karya lainnya.



Hingga saat ini, dirinya masih kerap berkolaborasi dengan komunitas-komunitas warga untuk menciptakan nuansa baru dalam sebuah karya kebudayaan. Kecintaannya dengan seni budaya, membawa jejak berharga pada tiap tempat yang ia singgahi, berupa karya-karya.
Dari proses itulah, ia dikenal atau dijuluki oleh karibnya sebagai nahkoda bunyi. (AJ)























