Selayarnews-Keluarga pasien mengeluhkan pelayanan di RS Pratama Jampea setelah mengalami langsung kondisi pelayanan medis yang dinilai lamban, keterbatasan obat, hingga fasilitas yang kurang layak, pada Rabu, 18 Maret 2026 sekitar pukul 07.48 WITA di IGD RS Pratama Jampea.
Rismawati, saudara kandung pasien Nuwarni yang mendampingi selama perawatan, mengungkapkan bahwa saat tiba di IGD, tidak ada petugas yang berjaga sehingga keluarga harus berulang kali menggedor pintu sambil berteriak meminta bantuan. “Kami harus menggedor pintu dan berteriak panik baru ada petugas datang, itu pun hanya satu orang yang berjaga di IGD,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pasien datang dengan keluhan nyeri ulu hati dan diare hingga sembilan kali, kemudian dalam observasi mengalami muntah dan menggigil. Namun, obat yang dianjurkan dokter seperti ondansetron, scopma, loperamide dibeli dari luar karena tidak tersedia di rumah sakit dan hanya dituliskan sebagai “kalau perlu”.
“Padahal kondisi pasien sudah muntah dan menggigil, tapi kami diminta menunggu muntah berikutnya dulu, sementara stok obat di rumah sakit juga tidak ada dan tidak ada arahan alternatif,” katanya.
Selain itu, pihak keluarga mengaku selama kurang lebih empat jam observasi tidak ada penanganan lanjutan yang signifikan, serta dokter tidak berada di tempat karena sistem on call. Mereka bahkan berinisiatif membeli obat sendiri dari luar, namun tetap harus menunggu persetujuan dokter.
“Obat dari luar yang sudah kami beli juga tidak dikembalikan saat pasien pulang. Karena kami awam, kami tidak tahu, jadi saya harus kembali lagi ke rumah sakit untuk mengambil sisa obat tersebut,” ungkap Rismawati.
Keluarga juga mengeluhkan kondisi ruangan yang dinilai panas, kotor dan kurang higienis. Dokumentasi yang diterima memperlihatkan adanya seekor lebah yang berterbangan di sekitar pasien, sarang laba-laba pada bagian tempat tidur, serta limbah botol infus yang diletakkan di area pasien. Pasien juga tidak segera dipindahkan ke ruang rawat meski telah berjam-jam berada di IGD, hingga akhirnya keluarga memutuskan pulang paksa pada Kamis, 19 Maret 2026.
Menanggapi hal tersebut, Direktur RS Pratama Jampea, drg. Maya Tamara, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan konfirmasi kepada keluarga pasien. Ia menjelaskan bahwa dari obat yang diresepkan dokter, hanya satu jenis yang tidak tersedia di rumah sakit.
“Terkait keluhan tidak ada obat, dari resep dokter hanya satu yang tidak tersedia,” ujarnya.
Ia juga membantah pernyataan bahwa pasien hanya diberikan paracetamol.
“Yang katanya pasien hanya diberikan paracetamol itu tidak benar. Kami memiliki bukti resume medik pasien, “tegasnya. (Resume Medik dikirimkan ke redaksi).
Terkait kehadiran dokter, ia menyebut sistem on call tetap berjalan dan respons dokter dinilai cepat.
“Kami juga memiliki bukti komunikasi konsultasi antara perawat jaga dengan dokter sebagai bentuk respons cepat dalam penanganan pasien, (Bukti Chat dikirim ke redaksi).”tambahnya.
Mengenai kondisi ruangan yang panas, drg. Maya menjelaskan hal tersebut dipengaruhi keterbatasan listrik di wilayah Jampea. “Listrik di Jampea hanya menyala 12 jam, dari pukul 18.00 hingga 06.00. Siang hari kami tidak bisa menyalakan genset terus-menerus karena keterbatasan anggaran, kecuali untuk kondisi tertentu yang membutuhkan listrik,” jelasnya.
Ia juga mengakui adanya keterbatasan operasional rumah sakit, yang hanya bergantung pada anggaran dari JKN dengan jumlah peserta sekitar 2.417 jiwa per Maret 2026. “Kapitasi kami sekitar Rp29 juta per bulan, yang harus dibagi untuk jasa pelayanan dan operasional,” ungkapnya.
Sementara terkait kebersihan, ia menyebut sejak tahun 2025 tidak ada lagi tenaga cleaning service, sehingga kebersihan menjadi tanggung jawab masing-masing tenaga kesehatan. “Perawat dan bidan juga merangkap menjaga kebersihan ruangan. Jadi memang ada keterbatasan,” jelasnya.
Pihak rumah sakit berharap masyarakat dapat memahami kondisi keterbatasan yang ada, sembari tetap berupaya melakukan perbaikan pelayanan secara bertahap guna memberikan layanan kesehatan yang lebih optimal di wilayah kepulauan.
(Red)























